Di kaki bukit yang hijau dan tenang, terletak sebuah desa kecil bernama Sukajadi. Desa itu terkenal dengan alamnya, udara segar, dan masyarakat yang hidup sederhana. Namun, beberapa tahun terakhir, lahan-lahan di sana mulai terbengkalai. Banyak pemuda memilih merantau ke kota, mencari kehidupan yang dianggap lebih menjanjikan.
Hanya satu yang berbeda — Daffa, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang memilih untuk tetap tinggal di desa.
Daffa dikenal sebagai sosok yang ceria, rajin, dan tekun. Setiap pagi, ia bangun lebih awal dari ayam jantan yang berkokok. Dengan langkah mantap dan senyum di wajah, ia pergi ke lahan kecil di belakang rumahnya. Di sanalah mimpinya mulai tumbuh.
Awalnya, banyak yang mencibir.
“Mana bisa tanam sayuran tanpa tanah?” kata Pak Wira, tetangga sebelah rumah.
“Anak muda sekarang aneh saja,” timpal Bu Siti sambil tertawa kecil.
Namun Daffa tak peduli. Ia terus belajar tentang hidroponik, menonton video, membaca artikel, dan bertanya kepada penyuluh pertanian yang datang ke kecamatan. Ia mengumpulkan bahan bekas — botol plastik, pipa paralon, dan ember tua — lalu menyusunnya menjadi sistem hidroponik sederhana di bawah atap bambu seadanya.
Hari demi hari ia rawat tanaman itu dengan penuh kesabaran. Tapi hasilnya tidak langsung tampak.
Benih yang ditanam tak tumbuh seragam. Beberapa tanaman layu sebelum sempat berdaun lebat. Hama datang menyerang, menggerogoti daun-daun muda hingga tinggal tulang-tulangnya saja.
Suatu malam, angin kencang disertai hujan deras mengguyur Sukajadi. Atap tempat instalasi hidroponiknya roboh — bambu penopangnya patah, pipa-pipa berserakan, dan air tergenang di mana-mana. Daffa hanya bisa berdiri menatap kerusakan itu dengan mata berkaca-kaca. Semua usahanya seolah sia-sia.
Pagi itu, ibunya mendekat dan menepuk bahunya pelan.
“Kalau mimpi besar, pasti ada ujian besar juga, Nak. Bangkitlah, jangan berhenti di sini.”
Kata-kata itu menyalakan kembali semangat Daffa. Ia memperbaiki instalasinya, memperkuat atap dengan besi, dan menanam ulang bibit baru. Kali ini ia bekerja lebih teliti — mencatat suhu air, kadar nutrisi, hingga arah sinar matahari. Ia juga mulai mencoba peternakan ayam dan bebek, serta menanam pohon alpukat di lahan desa yang dulu kosong.
Perlahan, kerja kerasnya berbuah manis.
Sayuran hidroponiknya tumbuh hijau segar, ayam dan bebeknya berkembang biak dengan baik, dan pohon alpukat mulai berbuah. Hasil panennya melimpah, dan warga desa takjub melihat perubahan yang terjadi.
“Daffa benar-benar luar biasa,” kata Pak Wira kini dengan kagum.
“Siapa sangka anak muda ini bisa mengubah lahan tidur jadi sumber rezeki,” tambah Bu Siti sambil tersenyum bangga.
Melihat semangat Daffa, para pemuda desa yang dulu lebih suka duduk di warung kini mulai ikut belajar.
“Bang Daffa, ajari kami bikin hidroponik juga dong!”
“Kalau ayam dan bebek, pakan apa yang bagus, Bang?”
Daffa tak pernah pelit ilmu. Setiap sore, ia mengadakan kelas kecil di bawah pohon mangga depan rumah. Warga datang, belajar, dan mulai percaya bahwa kemajuan tidak selalu datang dari kota — tetapi dari kerja keras dan keyakinan di tanah sendiri.
Kini, Desa Sukajadi berubah. Di sepanjang jalan terlihat rak-rak hidroponik berisi sayuran segar. Suara ayam dan bebek menjadi musik kehidupan. Lahan-lahan kosong kembali hijau dan produktif.
Dan di tengah semua perubahan itu, Daffa berdiri dengan senyum bangga.
Ia bukan sekadar petani muda — ia adalah bukti nyata bahwa mimpi yang dikerjakan dengan tekun dan hati yang tulus mampu menginspirasi seluruh desa.