Di masa depan, tidur adalah kemewahan. Mayoritas orang menggunakan SimulDream, sebuah perangkat VR yang memproyeksikan mimpi yang disempurnakan. Tujuannya: mengoptimalkan istirahat dan inspirasi. Rio (16 tahun) adalah programmer jenius, namun ia selalu merasa mimpi buatannya, meskipun sempurna secara teknis, terasa palsu.
Rio memiliki ambisi gila: menciptakan RealDream, mimpi yang sangat nyata hingga tidak bisa dibedakan dari kenyataan. Ia bekerja di laboratorium bawah tanah, mencoba memecahkan “Kode Sumber Mimpi”—kode rahasia yang mengatur emosi manusia saat tidur. Teman-temannya menertawakannya, “Mimpi harusnya pelarian, Rio, bukan kenyataan lain!”
Suatu malam, Rio tertidur kelelahan. Ia tidak menggunakan SimulDream. Ia mendapat mimpi alaminya sendiri. Dalam mimpi itu, ia adalah seorang astronot yang tersesat di luar angkasa. Ia merasakan ketakutan yang mencekam, namun juga keindahan melihat bintang yang sesungguhnya. Itu adalah mimpi yang tidak sempurna, namun sangat hidup.
Ia terbangun dengan ide gila: mimpi alaminya adalah bug yang harus ia selidiki. Ia mulai memprogram dirinya sendiri untuk mengalami RealDream dengan cara memanipulasi emosi alaminya.
Rio berhasil masuk ke dalam RealDream pertamanya. Ia berada di sebuah taman yang sangat indah, sempurna, tanpa cacat. Namun, di tengah kesempurnaan itu, ia mulai merasa bosan. Ia mencari celah, mencoba melarikan diri dari skenario yang telah ia program sendiri.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah pohon apel yang bengkok. Pohon itu tidak ada dalam kode programnya. Di bawah pohon itu, duduklah seorang gadis kecil yang menangis. “Kenapa kamu menangis?” tanya Rio. Gadis itu menjawab, “Mimpiku terlalu sempurna, aku tidak punya alasan untuk berharap.”
Rio tersadar. Kenyataan hidup itu penuh cacat, penuh tantangan, dan itulah yang menciptakan harapan dan mimpi sejati. Ia kembali ke interface programnya dan menghapus semua kode kesempurnaan. Ia menyadari bahwa RealDream bukanlah tentang menciptakan kesempurnaan, tetapi tentang meniru ketidaksempurnaan, meniru risiko dan rasa sakit yang membuat manusia terus berjuang dan bermimpi.
Rio mempresentasikan penemuannya, RealDream V.2. Ini bukanlah mimpi yang sempurna, melainkan simulasi yang mengajarkan pengguna tentang kegagalan, perjuangan, dan keindahan yang muncul dari ketidakpastian. Perangkatnya meledak di pasaran. Rio menjadi ilmuwan sukses, namun ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menyisakan waktu untuk tidur alami, karena ia tahu, kode sumber mimpi sejati berada di dalam hati yang berani menghadapi ketidakpastian.
Cerpen ini dikuti dari : https://www.brainacademy.id/blog/contoh-cerita-pendek