AYAH, TOLONG TEMUKAN…
Karya Nina The’a
“Ada orang-orang yang telah pergi dari dunia, tetapi cintanya tinggal di rumah kita, menetap di sudut-sudut kenangan, dan diam-diam menjadi jalan bagi datangnya pertolongan.”
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Tujuh tahun cukup panjang untuk menyaksikan anak-anak tumbuh dewasa, rumah berubah suasana, rambut perlahan disapa uban, dan kesedihan yang dahulu terasa seperti luka terbuka mulai belajar menjadi bagian dari kehidupan.
Namun bagi Bu Nirina, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar berubah.
Kerinduan kepada suaminya.
Laki-laki yang tujuh tahun lalu pergi untuk selamanya, tetapi meninggalkan begitu banyak jejak di dalam rumah, di dalam kehidupan anak-anaknya, dan terutama di dalam hati Bu Nirina.
Salah satu jejak itu berada di garasi. Sebuah Nissan Grand Livina putih.
Mobil itu dahulu dibeli suaminya dalam keadaan baru dari dealer. Ketika pertama kali datang ke rumah, cat putihnya masih berkilau, aromanya masih menyimpan bau khas kendaraan baru, dan wajah suaminya tampak begitu bahagia ketika memperlihatkannya kepada keluarga.
“Ini mobil kita,” katanya waktu itu.
Kalimat sederhana.
Namun bagi Bu Nirina, kalimat itu kelak menjadi salah satu kenangan yang paling sulit dilupakan.
Mobil itu bukan mobil tua. Bukan pula mobil yang sudah rusak dimakan usia. Ia masih terlihat seperti kendaraan keluarga yang terawat. Hanya saja, setelah pemiliknya berpulang, mobil itu seolah kehilangan alasan untuk berjalan.
Selama tujuh tahun mobil putih itu lebih banyak diam di garasi. Tidak pernah dipanaskan. Tidak pernah dihidupkan. Tidak pernah dibawa ke mana-mana. Hari demi hari berlalu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun.
Debu perlahan menempel pada bodinya. Sarang laba-laba mulai menghiasi sudut-sudut garasi. Ban-ban yang dahulu kokoh perlahan kehilangan tekanannya dan kemudian retak karena terlalu lama tidak digunakan.
Tetapi mesin mobil itu tetap menyimpan diam. Seperti sebuah kenangan yang belum benar-benar selesai. Kadang-kadang Bu Nirina sengaja memandangnya dari kejauhan. Ia tidak pernah berani terlalu lama.
Sebab setiap kali melihat mobil itu, yang muncul bukanlah bayangan kendaraan. Yang muncul adalah wajah suaminya. Laki-laki yang dahulu duduk di balik kemudi. Laki-laki yang mengajarkan putrinya mengemudi.
Laki-laki yang selalu berkata, “Pelan-pelan saja. Yang penting jangan panik.”
Kalimat itu masih tersimpan di kepala Bu Nirina, meskipun suara pemiliknya telah lama tidak terdengar.
Suatu sore, putri sulung Bu Nirina pulang ke rumah. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya. Gadis kecil yang dahulu sering duduk di samping ayahnya kini telah berubah menjadi perempuan dewasa yang siap menapaki kehidupan sendiri.
Pandangan matanya kemudian tertumbuk pada Grand Livina putih di garasi. Ia berdiri cukup lama.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam ingatannya. Dahulu, ketika ayahnya masih hidup, ia sebenarnya sudah belajar mengemudikan mobil itu.
Ia masih duduk di bangku SMP saat itu. Tangannya sudah mengenal kemudi. Kakinya sudah belajar mengatur pedal. Ia bahkan beberapa kali duduk di kursi pengemudi didampingi ayahnya.
Namun ayahnya selalu tegas.
“Belajar boleh. Mengemudi di jalan sendiri belum boleh. Kamu masih kecil dan belum punya SIM.”
Putrinya hanya mengangguk. Waktu itu ia tidak memahami bahwa kelak kalimat sederhana tersebut akan menjadi salah satu kenangan paling berharga tentang ayahnya.
Kini tujuh tahun telah berlalu.
Usianya sudah cukup. Ia sudah memiliki SIM. Dan mobil yang dahulu menjadi tempat ia belajar bersama ayahnya masih ada. Hanya ayahnya yang tidak ada. Putri sulung itu mendekati mobil. Tangannya menyentuh bagian kap yang berdebu. Ia tersenyum tipis.
“Bunda…”
“Iya?”
“Bagaimana kalau mobil Ayah kita hidupkan lagi?”
Bu Nirina terdiam.
Entah mengapa, pertanyaan itu seperti mengetuk pintu yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
“Memangnya kamu mau belajar mengemudi lagi?”
“Mau, Bu.”
Bu Nirina memandang putrinya. Untuk beberapa detik mereka hanya saling diam. Kemudian sebuah senyum perlahan muncul di wajah Bu Nirina. Mungkin sudah waktunya. Bukan untuk menggantikan kenangan tentang suaminya. Tetapi untuk melanjutkan kehidupan yang dahulu pernah mereka bangun bersama.
Bu Nirina kemudian menghubungi salah seorang temannya yang memahami mesin kendaraan.
Grand Livina putih itu diperiksa dengan teliti. Kap mesin dibuka. Satu per satu bagian diperiksa.
Bu Nirina berdiri tidak jauh dari sana dengan hati yang berdebar. Ia membayangkan berbagai kemungkinan. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia khawatir mesinnya rusak. Ia khawatir biaya perbaikannya besar. Ia bahkan sempat berpikir mungkin mobil itu tidak akan pernah bisa digunakan lagi.
Namun manusia hanya mampu membuat perkiraan. Allah memiliki keputusan sendiri. Setelah pemeriksaan selesai, temannya tersenyum.
“Mesinnya masih bagus, Bu.”
Bu Nirina hampir tidak percaya.
“Serius?”
“Serius. Tidak ada kerusakan mesin yang berarti. Sistemnya masih stabil. Yang perlu diganti terutama ban karena terlalu lama tidak digunakan dan sudah retak.” Bu Nirina memandang mobil putih itu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hatinya terasa hangat ketika melihatnya. Seolah-olah mobil itu baru saja membuka mata setelah tidur yang sangat panjang.
“Alhamdulillah…”
Satu kata itu keluar lirih. Namun di baliknya tersimpan rasa syukur yang begitu dalam.
Mobil kemudian dibawa ke bengkel. Empat ban diganti. Mesin kembali diperiksa. Semua dipastikan dalam kondisi layak. Sementara itu, putri sulung Bu Nirina kembali belajar mengemudi.
Hari pertama masih kaku. Hari kedua mulai percaya diri. Hari berikutnya semakin lancar. Sesekali Bu Nirina duduk di sampingnya. Tangannya memegang erat kursi. Bukan karena tidak percaya kepada putrinya. Melainkan karena setiap kali mobil bergerak, ia seperti sedang menyaksikan kembali masa lalu.
Dahulu suaminya yang duduk di balik kemudi. Kini putrinya. Dahulu seorang ayah mengajarkan anaknya. Kini seorang anak meneruskan apa yang pernah diajarkan ayahnya. Ada sesuatu yang begitu indah dalam pergantian tangan di balik kemudi itu.
Seperti kehidupan yang berkata:
Yang pergi boleh meninggalkan dunia, tetapi apa yang telah ia ajarkan tidak harus ikut pergi.
Tidak lama kemudian datang kabar tentang program pemutihan pajak kendaraan dari pemerintah daerah. Bu Nirina merasa inilah kesempatan yang tepat untuk mengurus pajak mobil peninggalan suaminya.
Putrinya segera menyiapkan berkas dan datang ke Samsat. Namun petugas berkata,
“Dek, ini baru bulan Agustus. Pajak mobilnya bulan Desember. Kalau sekarang dibayar, nanti Desember bayar lagi. Sayang.”
Putri Bu Nirina terdiam.
“Pak, bulan Desember saya sudah bekerja di Jakarta.”
“Oh, sudah dapat kerja?”
“Sudah, Pak. Minggu ini saya berangkat. Ibu dan adik saya tidak bisa mengendarai mobil. Kalau cek fisiknya nanti, siapa yang membawa mobil ke sini?”
Petugas itu berpikir sejenak.
“Kalau begitu cek fisiknya sekarang saja.”
“Bisa, Pak?”
“Bisa. Nanti pemutihannya tinggal dilanjutkan. Tidak perlu cek fisik lagi.”
Putri Bu Nirina mengembuskan napas lega.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Pak.”
Cek fisik pun dilakukan. Berkas kemudian disimpan dengan baik. Tidak seorang pun menyangka bahwa beberapa bulan kemudian, justru berkas itulah yang akan menjadi awal dari sebuah pencarian panjang.
Bulan Desember akhirnya tiba.
Bu Nirina baru pulang dari Malaysia dan Singapura setelah lima belas hari mengikuti studi banding. Tubuhnya lelah. Namun pikirannya segera teringat pada satu hal.
“Pajak mobil…”
Baru tanggal sepuluh. Masih ada waktu. Tetapi Bu Nirina tidak ingin menunda. Ia berniat mengurusnya pada hari Senin.
Ia mulai mencari berkas yang dititipkan putrinya. Katanya diletakkan di atas etalase di kamar.
Bu Nirina membuka etalase. Tidak ada. Ia mencari di kamar.
Tidak ada.
Lemari.
Tidak ada.
Ruang tamu.
Tidak ada.
Di dalam Grand Livina.
Tidak ada.
Laci.
Rak.
Meja.
Toko sembako.
Semuanya diperiksa.
Namun tas berisi BPKB, STNK, dan dokumen pajak itu tidak ditemukan. Hari pertama berlalu.
Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat. Pencarian semakin melelahkan.
Tidak hanya Bu Nirina yang mencari. Putranya ikut mencari. Ibunya ikut mencari. Bibinya yang menjaga toko ikut mencari. Tetapi semuanya sia-sia.
Tas itu seperti hilang ditelan bumi.
“Bunda, saya yakin sekali saya menyimpannya di kamar Bunda,” kata putrinya melalui telepon dari Jakarta.
“Bunda sudah cari di sana, Teteh.”
“Coba lagi, Bun.”
“Sudah berkali-kali.”
Putrinya terdiam. Kemudian berkata,
“Kalau begitu lapor polisi saja, Bun.”
Hari ketujuh.
Bu Nirina akhirnya datang ke kantor polisi.
Ia menjelaskan semuanya. Petugas mendengarkan dengan sabar.
“Bu, prosesnya memang agak panjang. Ibu harus membuat berita kehilangan di media cetak selama tiga hari berturut-turut. Setelah itu baru kami proses surat kehilangan.”
Bu Nirina mengangguk.
“Saya sudah mencari tujuh hari, Pak.”
“Semoga ketemu dulu, Bu.”
“Iya, Pak. Mohon doanya.”
“Pasti kami doakan.”
Tiga hari kemudian, berita kehilangan selesai dibuat. Bu Nirina kembali ke kantor polisi.
Surat kehilangan diproses. Kemudian ia menuju Samsat. Namun penjelasan petugas Samsat membuat dadanya kembali sesak.
“Kalau BPKB dan STNK hilang, prosesnya cukup panjang, Bu.”
“Berapa lama, Pak?”
“Bisa sekitar tiga bulan untuk BPKB. Pajaknya juga belum bisa langsung dibayar. Administrasinya cukup banyak.”
Bu Nirina menarik napas panjang.
“Jadi sebaiknya saya cari dulu ya, Pak?”
“Iya, Bu. Karena prosesnya tidak sebentar dan biayanya juga tidak sedikit.”
Bu Nirina mengangguk.
“Baik, Pak. Doakan semoga ketemu.”
Petugas itu tersenyum.
“Pasti, Bu.”
Kemudian ia menambahkan,
“Ini hari Jumat. Kalau malam Sabtu ketemu, besok kami buka setengah hari. Langsung saja datang. Biar tidak jadi diproses.”
“Baik, Pak.”
Bu Nirina tersenyum tipis.
“Doakan ya.”
“Pasti, Bu. Kami semua doakan.”
Sepuluh hari. Sepuluh hari mencari. Sepuluh hari bertanya. Sepuluh hari membuka kembali sudut-sudut rumah. Sepuluh hari menguras tenaga dan air mata. Malam itu Bu Nirina duduk sendiri.
Pikirannya kembali kepada suaminya. Dahulu, setiap kali kehilangan sesuatu, ia selalu berkata,
“Ayah, kunci mobil di mana?”
“Ayah, kunci motor?”
“Ayah, buku itu?”
“Ayah, surat penting yang kemarin?”
Dan hampir selalu suaminya tahu. Laki-laki itu begitu teliti. Barang-barang penting selalu disimpan rapi. Ia tahu tempat segala sesuatu. Ia adalah manusia yang dulu membuat rumah terasa memiliki peta. Kini peta itu telah hilang bersama kepergiannya. Bu Nirina menatap langit-langit kamar. Air matanya kembali jatuh.
“Ayah…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Tolong bantu Bunda.” Ia bangkit. Mengambil air wudu. Mendirikan salat hajat. Kemudian tahajud. Hingga azan Subuh berkumandang. Setelah salat Subuh, ia duduk di atas sajadah. Tangannya terangkat.
“Ya Allah…” “Aku bukan orang baik.” “Aku bukan manusia yang tidak punya dosa.” “Tapi kalau ada satu kebaikanku yang paling tulus…” Suaranya bergetar.
“Aku ingin menukarkan kebaikan itu dengan menemukan BPKB, STNK, dan dokumen pajak mobilku.” Ia menangis. “Itu saja, Ya Allah.” “Tidak lebih.” “Kalau Engkau berkenan, tunjukkanlah kepadaku.” Doanya selesai.
Bu Nirina menurunkan tangan. Kemudian menoleh ke sebelah kiri. Di sana ada sebuah keranjang pakaian. Tidak ada yang istimewa. Hanya keranjang biasa. Namun… Ada sesuatu yang menjuntai.
Sebuah tali. Bu Nirina menyipitkan mata.
“Tali tas?”
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia bangkit. Mendekati keranjang. Tangannya mulai gemetar. Pakaian demi pakaian dikeluarkan.
Dan di bawah tumpukan pakaian itu… Ada sebuah tas. Tas yang selama sepuluh hari dicari. Tas yang membuat seluruh keluarga kelelahan. Tas yang membuat Bu Nirina sampai harus membuat laporan kehilangan. Tangannya semakin gemetar ketika membuka resleting.
BPKB. STNK. Dokumen pajak. Semuanya ada. Lengkap. Bu Nirina terpaku.
Air mata mengalir tanpa mampu ditahan. Ia kemudian bersujud.
“Alhamdulillah…”
Tangisnya pecah. Bukan lagi tangis orang yang kehilangan. Tetapi tangis seseorang yang baru saja menyaksikan sebuah doa menemukan jawabannya.
Pagi itu rumah kembali ramai. Semua anggota keluarga berkumpul.
“Ketemu di mana, Bu?”
Bu Nirina menunjuk keranjang pakaian. Semua terdiam. Tidak ada yang merasa pernah memasukkan tas itu ke sana. Tidak ada yang merasa memindahkannya. Tidak ada yang tahu bagaimana tas itu bisa berada di bawah tumpukan pakaian. Namun kali ini Bu Nirina tidak lagi sibuk mencari penjelasan.
Ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah tas. Ia menemukan keyakinan. Bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah ia duga. Bahwa doa tidak selalu menjawab pertanyaan bagaimana. Kadang doa hanya menghadirkan jawaban. Dan membuat manusia belajar percaya.
Sejak saat itu, setiap kali Bu Nirina melihat Grand Livina putih milik almarhum suaminya, hatinya tidak lagi dipenuhi kesedihan semata. Ia melihat perjalanan. Mobil itu pernah menjadi mobil baru yang dibeli dengan penuh kebahagiaan. Pernah menjadi tempat suaminya mengajarkan putrinya mengemudi. Pernah terdiam selama tujuh tahun. Kemudian kembali hidup. Kembali berjalan. Dan akhirnya menjadi saksi sebuah doa.
Bu Nirina sadar, suaminya memang telah berpulang. Ia tidak akan pernah mengatakan bahwa suaminya masih hidup. Namun cinta yang pernah diberikan laki-laki itu tidak ikut dikuburkan.
Cinta itu tinggal. Dalam kenangan. Dalam kebiasaan. Dalam nasihat. Dalam cara anak-anaknya menjalani hidup.
Dan dalam setiap sudut rumah yang pernah mereka bangun bersama. Kini, setiap kali kehilangan sesuatu, Bu Nirina masih sering berkata,
“Ayah… Bunda kehilangan sesuatu. Tolong bantu temukan.” Lalu ia tersenyum. Sebab ia tahu, yang sesungguhnya ia minta bukanlah suaminya untuk kembali. Ia hanya sedang mengetuk pintu kenangan.
Dan dari balik ketukan itu, ia menemukan keberanian untuk percaya bahwa Allah selalu dekat dengan orang yang berharap kepada-Nya. Grand Livina putih itu pun akhirnya kembali melaju.
Rodanya menyentuh jalan. Mesinnya berdengung. Putri sulung Bu Nirina duduk di balik kemudi. Untuk sesaat, Bu Nirina melihat bayangan masa lalu. Seorang ayah duduk di sana. Mengajari putrinya.
“Pelan-pelan…”
“Jangan panik…”
“Lihat jalan…”
Kalimat itu seperti kembali terdengar. Bu Nirina tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Di samping putrinya, ia berbisik,
“Kalau Ayahmu masih ada, pasti dia senang melihat kamu sekarang.”
Putrinya menggenggam tangan ibunya.
“Bunda…”
“Iya?”
“Menurut Bunda, Ayah masih menjaga kita?”
Bu Nirina menatap jalan di depan. Kemudian tersenyum.
“Bukan Ayah yang menjaga kita, Nak.” Ia menarik napas perlahan.
“Allah yang menjaga kita.” Mobil putih itu terus melaju. Meninggalkan garasi yang selama tujuh tahun menjadi tempat penantian. Meninggalkan debu-debu masa lalu. Membawa seorang ibu dan anaknya menuju hari-hari baru. Sementara di dalam hati Bu Nirina, satu keyakinan tumbuh semakin kuat:
Orang yang kita cintai mungkin telah pergi dari pandangan mata, tetapi kebaikan yang ia tinggalkan dapat terus hidup dalam perjalanan kita.
Dan ketika hati sedang kehilangan arah, doa akan selalu menemukan jalan. Sebab Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Tidak pernah. Bahkan ketika kita merasa sendirian. Bahkan ketika rumah terasa sunyi. Bahkan ketika seseorang yang dahulu selalu menjawab pertanyaan kita telah lama kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya Bu Nirina memahami satu hal:
Suaminya memang telah pergi. Tetapi cinta, kenangan, doa, dan kebaikan yang pernah ia tinggalkan—tidak pernah benar-benar pergi.
Dan setiap kali Bu Nirina berbisik,
“Ayah, tolong temukan…”
sesungguhnya ia sedang mengingat satu nama yang lebih tinggi dari segala nama: Allah.