JATUH CINTA
Karya Mila Safitri XII TKJ 1
Namaku Dilan, kelas 12 TSM. Dulu, alarm jam 5 pagi adalah musuhku. Aku sering telat, seragamku kusut, dan kukuku hitam karena oli. Bagiku, sekolah itu membosankan.
Duniaku adalah oli, kunci-kunci, dan suara knalpot dari bengkel depan sekolah yang berisik dan panas.
Sampai aku menyadari, ada satu orang yang membuat lorong sekolah terasa lebih terang. Namanya Milea, satu angkatan denganku tapi beda jurusan. Dia anak TKJ, identik dengan laptop, kabel LAN, dan lab komputer yang dingin, wangi, dan ber-AC di gedung belakang. Dia anak yang rajin dan aktif di marching band.
Aku menyukainya diam-diam sejak kelas 10. Aku malu, mana berani anak TSM yang kotor oli mendekati anak TKJ yang pintar-pintar itu.
Momen itu terjadi saat lomba 17 Agustusan, tarik tambang TSM vs TKJ. Aku menjadi jangkar, dan dia yang paling kecil tapi teriakannya paling kencang di tim lawan. Tim kami kalah. Sejak itu, aku sering lewat ke arah lab belakang dengan alasan ke perpustakaan.
Suatu hari, motor guru mogok di lapangan belakang. Semua anak TSM disuruh memperbaiki, termasuk aku. Dan yang ditugaskan untuk dokumentasi adalah anak TKJ, yaitu Milea.
“Apanya yang rusak?” tanya Milea sambil merekam dengan HP.
“Karburatornya kotor,” jawabku kaku dengan tangan belepotan oli.
Dia malah tertawa, “Keren ya, kamu ngerti mesin gitu.”
Sejak hari itu kami bertukar pelajaran. Aku mengajarinya cara ganti oli dan busi yang benar di bengkel depan, dia mengajariku cara instal ulang laptop dan membuat laporan praktek yang rapi di lab belakang.
Gara-gara Milea, aku jadi semangat sekolah dan tidak pernah malas lagi. Aku jadi rajin berangkat jam 6.30 pagi agar bisa berpapasan dengannya di gerbang. Aku jadi rajin mengerjakan tugas dan ikut bimbel sore.
Ujian akhir datang, dan untuk pertama kalinya aku belajar dengan sungguh-sungguh. Nilainya pun naik, aku masuk 10 besar jurusan. Guru BK pun bertanya, “Tumben semangat, Dilan?”
Aku hanya tersenyum. Aku tidak bilang kalau semangatku punya nama.
“mungkin setelah lulus nanti bengkel depan dan lab belakang akan kosong,tapi cerita nya nggak.”
Jatuh cinta satu angkatan beda jurusan ternyata tidak mengganggu. Justru karena setiap hari bertemu di sekolah yang sama, aku jadi tidak pernah malas untuk sekolah. Perbedaan jurusan bukan penghalang, justru membuat kami saling melengkapi.
Aku yang jago hardware motor, dia yang jago hardware komputer.
Cinta yang tepat tidak akan membuatmu malas, tapi akan membuatmu ingin menjadi versi terbaik dari dirimu.