Buku Bacaan dan Langkah Ibu yang Tak Kembali
Hari itu terasa seperti hari biasa. Aku yang baru berusia empat tahun sedang duduk bersila di lantai ruang tamu. Di pangkuanku, terbuka sebuah buku cerita bergambar dengan huruf-huruf besar.
Dengan jemari mungilku, aku menunjuk satu per satu huruf di halaman itu.
“B… U… BU… B-U-K-U… BUKU…” ucapku pelan, mengeja dengan penuh kesungguhan.
Setiap kali berhasil membaca satu kata, ada rasa bangga di dalam hatiku. Aku membayangkan nanti malam aku bisa menunjukkan pada Ibu betapa pintarnya aku sekarang.
Namun, keheningan siang itu mendadak terpecah. Dari arah ruangan sebelah, terdengar bentakan keras. Suara Ayah dan Ibu.
Awalnya nada bicara mereka biasa saja, namun lama-kelamaan menjadi sangat tinggi dan penuh amarah. Suara pertengkaran mereka semakin membentak dan memenuhi seluruh sudut rumah.
Buku bacaan yang tadi kupegang perlahan terlepas dari genggamanku. Dada kecilku terasa sesak dan jantungku berdegup sangat kencang. Aku melihat ke arah Ayah yang tampak begitu marah, dan Ibu yang berdiri gemetar.
Melihat dua orang yang paling kucintai saling berteriak, rasa takut yang luar biasa menghantamku. Air mataku menetes, dan seketika aku menangis terisak-isak di sudut ruangan. Aku berteriak kecil memanggil mereka, namun suara tangisku tenggelam di antara pertengkaran yang makin memuncak.
Tiba-tiba, Ibu tertunduk dan menangis sejadi-jadinya. Air mata membasahi seluruh wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada Ayah, Ibu berjalan cepat menuju kamar.
Dengan tangan yang masih gemetar karena tangis, Ibu membuka lemari, mengambil sebuah tas besar, dan mengemas baju-bajunya dengan terburu-buru.
Aku berlari mendekati pintu kamar, mengusap air mata dengan lengan bajuku. “Ibu… mau ke mana?” bisik hatiku penuh kebingungan, namun tenggorokanku terlalu sakit untuk bersuara.
Ibu menarik resleting tasnya, lalu berjalan menuju pintu depan. Sebelum melangkah keluar, Ibu sempat menatapku sebentar dengan mata yang sembab dan penuh duka. Namun, langkahnya tak berhenti. Ibu membuka pintu rumah, berjalan menyusuri jalanan, dan pergi…
Hari itu, aku berdiri di ambang pintu sambil terus menangis memanggil Ibu. Aku terus menunggu di dekat buku bacaanku, berharap Ibu hanya pergi sebentar dan akan kembali untuk mendengarkanku membaca lagi.
Namun, hingga matahari terbenam, hingga hari berganti bulan dan tahun… Ibu tidak pernah kembali lagi.
Buku cerita bergambar itu tetap tersimpan rapi, menjadi saksi bisu hari terakhir aku melihat seorang ibu yang tersayang.
“Beberapa kenangan masa kecil tak pernah pudar, bukan karena kita ingin mengingatnya, tapi karena di sanalah hati kita tertinggal.”