Bantuan PIP Penolong SPP dan Seragam Sekolahku
Karya: Bublemilaw XII TKJ 1
Namaku Nawila. Duduk di jendela paling ujung kelas XII TKJ 1. Kalau orang lain takut dengan plastik hitam milik Bu Erliza, aku lebih takut dengan plastik bening berisi surat tagihan SPP yang diselipkan di buku agenda.
Sudah tiga bulan SPP-ku nunggak. Seragam putihku juga sudah mulai menguning di bagian kerah, roknya sudah aku jahit sendiri dua kali karena sobek.
Pagi itu hari Selasa. Wali kelas, Bu Laila, masuk sambil membawa map cokelat.
“Anak-anak, Ibu akan bacakan daftar penerima bantuan PIP tahap ini. Kalau namanya dipanggil, besok bawa fotokopi KK dan KTP orang tua ke Bank,” kata beliau.
Satu kelas langsung tegang. Semua berharap namanya dipanggil.
Bu Laila mulai menyebutkan nama.
“Hafiez… Siska… Aldo…”
Jantungku berdegup kencang. Sampai nama terakhir dibacakan, namaku tidak ada.
Aku menunduk. Malu. Di laci mejaku ada surat peringatan terakhir dari TU. _Jika tidak dilunasi minggu ini, tidak boleh ikut ujian praktik._
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku duduk di lab TKJ sendirian, pura-pura merapikan kabel LAN padahal mataku sudah panas.
Bu Erliza yang kebetulan lewat melihatku.
“Nawila, kenapa belum pulang?” tanyanya.
Aku tidak bisa menahan air mata lagi. Aku ceritakan semuanya. Tentang SPP, tentang seragam.
Bu Erliza tidak banyak bicara. Beliau hanya menepuk pundakku pelan.
“Besok ke ruang BK ya. Ibu bantu cek lagi data kamu. Jangan menyerah, rezeki itu kadang datangnya terlambat sedikit,” ucapnya.
Keesokan harinya, keajaiban itu datang. Ternyata ada satu nama tambahan susulan dari pusat. Dan itu namaku.
“Nawila!” panggil Bu Laila dari depan kelas.
Aku sampai tidak percaya.
Sore itu, aku dan Ibu pergi ke bank dengan buku tabungan PIP. Di dalam antrian panjang, aku melihat banyak orang tua lain yang wajahnya sama cemasnya sepertiku, tapi juga penuh harap.
Saat uang Rp 1.800.000 itu keluar dari mesin ATM, tangan Ibu bergetar. Bukan karena jumlahnya besar, tapi karena beban di pundaknya berkurang.
Malam itu juga, kami langsung ke pasar. Bukan untuk membeli lip tint seperti biasanya, tapi untuk membeli seragam putih baru dan melunasi SPP.
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan seragam baru yang masih wangi toko. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku bisa duduk dengan percaya diri tanpa takut ditagih.
Bu Laila melihatku dan tersenyum. “Nah, gitu dong. Seragam baru, semangat baru.”
Aku mengangguk. Di dalam hati aku berbisik, terima kasih untuk amplop cokelat kecil bernama PIP itu.
Bantuan PIP bukanlah tentang seberapa besar jumlahnya, melainkan tentang bagaimana bantuan itu mampu menyelamatkan mimpi seorang siswa agar tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-citanya.