DI UJUNG NAPAS, ADA TANGAN-TANGAN YANG DIKIRIM ALLAH SWT
Karya: Nina The’a
Ada kalanya manusia merasa sedang berjalan sendirian, padahal sejak awal Tuhan telah menyiapkan begitu banyak tangan untuk menuntunnya.
Hanya saja, tangan-tangan itu kadang datang dari arah yang tak pernah kita duga.
Namanya Devano.
Ia adalah putra kedua Bu Nirina. Sejak duduk di bangku kelas satu SD semester dua, Devano telah mengenal arti kehilangan lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Ayahnya berpulang, meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa lebih luas, tetapi sekaligus lebih sunyi.
Sejak hari itu, Devano tumbuh bersama ibunya dan neneknya—perempuan tua yang menjadi tempatnya bermanja, bercerita, sekaligus berlindung dari banyak luka yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Waktu rupanya tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun. Tahun demi tahun berlalu.
Anak kecil yang dahulu masih menggenggam tangan ibunya ketika menyeberang jalan, kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Devano sudah duduk di kelas X dan sebentar lagi akan naik ke kelas XI.
Hari pembagian rapor kenaikan kelas telah berlalu. Di hadapannya terbentang sebuah perjalanan yang sudah lama dinantikan: kunjungan industri ke Yogyakarta.
Lima hari bersama teman-teman. Lima hari meninggalkan rutinitas sekolah. Lima hari melihat dunia yang lebih luas dari halaman sekolah dan buku-buku pelajaran.
Devano begitu bersemangat.
Namun, seminggu sebelum keberangkatan, sesuatu yang tidak pernah direncanakan datang mengetuk. Tubuh Devano mendadak panas. Demamnya tinggi.
Pada awalnya Bu Nirina mengira hanya demam biasa. Devano kemudian dibawa ke dokter langganan keluarga. Dokter itu bukan sekadar dokter. Ia adalah sahabat dekat almarhum ayah Devano.
Ada perasaan tenang setiap kali Bu Nirina membawa anaknya ke sana. Seolah ada sedikit bagian dari masa lalu suaminya yang masih tinggal di ruangan dokter itu.
Obat diberikan.
Devano pulang. Hari pertama berlalu. Hari kedua. Hari ketiga. Hari keempat.
Namun demam itu tidak juga benar-benar pergi. Pada hari kelima, keadaan Devano justru semakin buruk. Tubuhnya menggigil. Kepalanya terasa berputar seperti dunia kehilangan porosnya. Nyeri menjalar ke seluruh tubuh. Ia mengerang, menahan sakit yang bahkan sulit ia jelaskan. Lalu air matanya jatuh.
“Bunda…”
Bu Nirina yang sedang berada di dekatnya segera mendekat.
“Kenapa, Dek?”
“Sakit, Bun…”
Suara itu lirih.
“Rasanya seperti ada yang berjalan di seluruh tubuhku.”
Bu Nirina menahan napas. Ia meraba dahi anaknya. Panas. Terlalu panas.
“Bunda bawa berobat lagi, ya.”
Dokter langganan mereka ternyata sedang berlibur ke Bandar Lampung.
Bu Nirina kemudian meneleponnya. Dari seberang telepon, dokter tersebut menyarankan agar Bu Nirina membeli obat di apotek sesuai resep yang diberikan.
Hari itu hari Minggu.
“Dokter-dokter banyak yang tutup, Dek,” kata Bu Nirina kepada anaknya.
Ia hendak pergi seorang diri. Namun Devano segera bangkit.
“Bunda, aku ikut.”
“Jangan, Nak. Kamu sedang sakit.”
“Aku mau cari dokter juga, Bun. Aku sudah nggak kuat.”
“Bunda naik motor. Kamu kuat?”
“Gak apa-apa, Bun. Yang penting hari ini aku berobat.”
Bu Nirina terdiam. Ada sesuatu dalam suara anaknya yang membuat hati seorang ibu tidak sanggup berkata tidak. Nenek Devano sedang pergi ke luar kota menghadiri undangan. Di rumah hanya ada bibinya yang menjaga toko. Bu Nirina pun berpamitan.
“Bik, saya bawa Devano ke apotek sekaligus cari dokter yang buka.”
Bibinya mengangguk. Mereka berangkat. Motor melaju perlahan. Bu Nirina berusaha mengemudi setenang mungkin. Sesekali ia menoleh ke belakang.
“Masih kuat, Nak?”
“Masih, Bun.”
Beberapa menit kemudian, tepat di depan sebuah minimarket, tiba-tiba tubuh Devano menegang.
“Bunda…”
Suara itu berubah.
“Bunda… aku sudah tidak kuat.”
Bu Nirina langsung mengerem. Motor berhenti. Devano berusaha menggerakkan tangannya.
Tidak bisa. Tangannya kaku. Napasnya berat.
“Bunda…”
Bu Nirina turun dari motor.
Ia melihat wajah anaknya.
Wajah yang beberapa menit lalu masih berusaha tegar, kini pucat dan ketakutan. Dan pada detik itu, sebuah ingatan lama menyambar pikirannya.
Tujuh tahun silam. Suaminya. Lelaki yang dicintainya. Tubuh yang perlahan kaku.
Dan kalimat yang pernah ia dengar dari orang yang paling ia cintai sebelum akhirnya pergi untuk selamanya.
“Aku sudah tidak kuat.”
Kalimat yang sama. Kali ini keluar dari mulut anaknya. Dunia Bu Nirina seperti runtuh untuk kedua kalinya.
“Tidak… jangan…”
Ia memeluk Devano.
“Devano!”
Air mata Bu Nirina pecah.
“Tolong!”
Ia berteriak.
“Tolong, Pak! Tolong anak saya!”
Orang-orang mulai berdatangan.
Di tengah kerumunan itu, dua orang lelaki tiba-tiba mendekat.
Tubuh mereka tinggi dan besar. Lengan mereka bertato. Kalung emas tampak melingkar di leher.
Sekilas, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa pertolongan akan datang dari mereka.
Salah seorang mendekat kepada Bu Nirina.
“Bu, sini. Motor Ibu saya bawa.”
Bu Nirina masih menangis.
“Anak Ibu kami bonceng. Dia sudah tidak bisa pegangan.”
Lelaki itu menunjuk motornya.
“Motor kita sama, Bu. Sama-sama Vario. Bedanya punya Ibu merah, punya saya hitam.”
Dalam keadaan panik, Bu Nirina tidak sempat berpikir panjang.
Ia menyerahkan kunci motornya.
Dua lelaki itu kemudian membantu Devano. Salah satunya mengangkat tubuh Devano dengan hati-hati.
“Pegang yang kuat, Dek. Kita ke puskesmas.”
Motor pun melaju. Bu Nirina mengikuti dari belakang.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan hidupnya, ia menyadari sesuatu yang sederhana tetapi begitu dalam:
Allah SWT tidak selalu mengirim pertolongan melalui orang yang kita kenal.
Kadang pertolongan datang melalui wajah-wajah yang sebelumnya tidak pernah kita lihat.
Sesampainya di puskesmas, Devano segera diperiksa. Tekanan darahnya rendah.
90/70.
Tangannya yang kaku ditangani perlahan. Suster membantu melemaskan tangannya.
Oksigen dipasang. Devano kesulitan bernapas. Dada kecilnya naik turun dengan cepat.
Bu Nirina berdiri di samping tempat tidur sambil terus menggenggam tangan anaknya.
“Bunda di sini, Nak.” Devano menatap ibunya.
“Aku mau sembuh, Bun.”
“Iya. Kamu pasti sembuh.”
“Aku masih mau ke Jogja.”
Bu Nirina tersenyum di antara air mata.
“Sekarang sembuh dulu.”
Puskesmas menganjurkan Devano rawat inap. Namun dokter baru tersedia keesokan harinya.
Sementara itu, Senin malam menuju Selasa adalah jadwal keberangkatan kunjungan industri.
Bu Nirina mulai bimbang.
Suster kemudian berkata,
“Kalau Ibu ingin Devano cepat ditangani, ada klinik tidak jauh dari sini. Klinik Assifa. Bisa dicoba, Bu.”
Harapan kecil kembali menyala. Devano dipindahkan. Di Klinik Assifa, pemeriksaan dilakukan lebih lengkap. Darahnya diperiksa. Hasilnya membuat Bu Nirina terdiam. DBD.
Dan hari itu adalah hari kelima. Hari yang menjadi salah satu masa kritis dalam perjalanan penyakit tersebut. Bu Nirina menatap anaknya. Di dalam hatinya, doa berulang-ulang naik tanpa suara.
Ya Allah, jangan ambil lagi anakku.
Tiga dokter menangani Devano. Penanganan dilakukan dengan cepat. Ada dokter perempuan yang merupakan seorang dokter anestesi. Ada pula pasangan suami istri yang merupakan dokter umum.
Mereka bekerja seperti tiga tangan yang saling menguatkan. Infus dipasang. Obat diberikan.
Pernapasan dipantau. Devano yang sebelumnya kesulitan bernapas perlahan mulai tenang. Tangannya yang sempat kaku mulai bisa digerakkan. Nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh perlahan mereda.
Malam itu Devano tertidur. Bu Nirina tidak benar-benar tidur. Ia duduk di samping ranjang sambil memandangi wajah anaknya. Sesekali ia membetulkan selimut. Sesekali tangannya menyentuh dahi Devano.
Ia teringat ayah Devano. Ia teringat hari ketika lelaki itu pergi. Ia teringat betapa takutnya ia kehilangan untuk kedua kalinya.
Pagi datang. Keadaan Devano membaik. Trombositnya mulai stabil. Dokter memperbolehkannya pulang.
Namun Bu Nirina belum sepenuhnya yakin.
“Dok, bagaimana kalau Devano tetap ikut kunjungan industri? Perjalanannya lima hari.”
Dokter memandang Devano.
“Bisa, Bu.” Bu Nirina terkejut. “Bisa?”
“Bisa, asalkan malam ini dirawat lagi. Kita berikan vitamin dan cairan infus agar kondisinya benar-benar siap.”
Devano langsung tersenyum.
“Bunda… aku boleh ke Jogja.”
Bu Nirina menatapnya. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
“Kalau dokter mengizinkan dan kamu benar-benar kuat, iya.”
Kabar tentang kondisi Devano juga sampai kepada keluarga besar dan warga sekolah.
Grup WhatsApp sekolah ramai oleh doa. Semoga Devano segera pulih. Semoga Allah memberikan kesehatan. Semoga bisa ikut kunjungan industri.
Pesan-pesan sederhana itu mungkin hanya beberapa baris di layar ponsel. Namun bagi seorang ibu yang sedang cemas, setiap doa adalah pelukan.
Senin malam. Selasa dini hari. Waktu keberangkatan tiba. Ba’da Magrib, sebuah Grand Livina putih berhenti di sekolah. Devano turun bersama Bu Nirina. Wajahnya masih menyimpan sisa lelah, tetapi senyumnya telah kembali. Mobil itu bukan sekadar kendaraan. Malam itu, mobil tersebut terasa seperti kendaraan yang mengantarkan seorang anak kembali menuju kehidupannya.
Tim medis telah disiapkan di bus. Obat-obatan tersedia. Devano juga membawa vitamin dan obat yang cukup. Semua orang mengkhawatirkannya. Namun Devano justru tampak tenang. Ia bahkan memilih duduk di kursi tengah. Bu Nirina berada di deretan depan. Di belakangnya duduk teman-teman perempuan Devano. Bus mulai bergerak meninggalkan sekolah. Lampu-lampu jalan berlarian di balik kaca. Devano menatap keluar. Jogja semakin dekat. Namun sebuah cerita lain segera dimulai.
Belum terlalu jauh perjalanan, satu teman perempuan Devano mulai mabuk.
“Bu… saya mual.”
Bu Nirina segera menoleh. Keresek diberikan. Air hangat disiapkan. Obat diberikan.
Belum selesai satu, yang lain menyusul.
“Bu, saya juga pusing.” Kemudian disusul suara lain.
“Bu Ria mabuk…”
“Bu Indah sesak napas…”
“Bu Amel pusing…” Satu tumbang. Selesai satu, tumbang lagi. Keresek datang dan pergi.
Air hangat berpindah tangan. Obat dibagikan. Tim kesehatan sibuk. Bu Nirina pun tak henti-hentinya membantu. Ia datang sebagai pendamping. Namun malam itu ia kembali menjadi seorang ibu bagi banyak anak. Sementara Devano? Ia baik-baik saja. Tenang. Sehat.
Bahkan sesekali tertawa bersama teman-temannya. Bu Nirina tersenyum melihatnya dari kejauhan. Dalam hati ia berkata,
“Barangkali inilah cara Tuhan menjawab doaku.”
Bukan dengan membuat perjalanan itu tanpa sakit. Tetapi dengan mengubah siapa yang sakit.
Anak yang baru saja melewati masa kritis justru tetap sehat. Sedangkan teman-temannya yang sejak rumah dalam keadaan sehat, satu per satu tumbang karena perjalanan.
Hari-hari di Jogja berjalan lancar. Kunjungan industri memberikan pengalaman baru bagi Devano dan teman-temannya. Mereka belajar melihat dunia industri secara langsung. Mereka melihat bahwa apa yang selama ini dipelajari di kelas ternyata memiliki wajah yang nyata di dunia kerja.
Perjalanan terasa panjang. Namun juga menyenangkan. Dan yang paling membahagiakan bagi Bu Nirina adalah melihat Devano tetap berdiri tegak di antara teman-temannya.
Tidak ada lagi tangan yang kaku. Tidak ada lagi tubuh yang menggigil. Tidak ada lagi napas yang tersengal. Hanya seorang anak muda yang sedang menikmati perjalanan bersama teman-temannya.
Seorang anak yang beberapa hari sebelumnya hampir membuat jantung ibunya berhenti berdetak karena ketakutan.
Kini ia tertawa. Kini ia berjalan. Kini ia belajar. Kini ia hidup.
Waktunya pulang.
Bus kembali menuju Lampung. Kali ini suasananya berbeda. Tidak ada yang sakit. Tidak ada yang mengerang.Tidak ada yang meminta keresek. Semua ceria. Semua bercanda. Devano duduk menikmati perjalanan. Bu Nirina memandang anaknya dari kejauhan. Lalu ia teringat dua lelaki asing yang menolong mereka di depan minimarket.
Dua lelaki bertato. Dua orang yang mungkin bagi sebagian orang hanya dilihat dari penampilan luarnya. Namun bagi Bu Nirina, mereka akan selamanya menjadi bagian dari cerita hidup keluarganya. Ia tidak pernah tahu nama mereka. Tidak tahu dari mana mereka datang. Tidak tahu ke mana mereka pergi setelah mengantarkan Devano ke puskesmas. Yang ia tahu hanyalah satu:
Pada saat seorang ibu merasa dunia sedang merenggut anaknya, Tuhan mengirimkan dua tangan untuk menahannya.
Bu Nirina kemudian teringat satu hal. Manusia sering terlalu sibuk menilai seseorang dari apa yang tampak di luar. Padahal kebaikan tidak selalu memakai pakaian yang kita bayangkan. Pertolongan tidak selalu datang dari orang yang kita kenal. Dan kasih sayang Allah SWT tidak selalu hadir melalui jalan yang mudah dipahami.
Kadang ia hadir melalui seorang dokter. Kadang melalui seorang suster. Kadang melalui teman-teman yang mengirimkan doa. Kadang melalui tim medis yang berjaga sepanjang perjalanan.
Dan kadang… melalui dua lelaki asing dengan tubuh besar, tato di lengan, dan kalung emas di leher. Dua orang yang datang tepat ketika seorang ibu berteriak,
“Tolong anak saya!”
Bu Nirina menatap langit melalui jendela bus.
Dalam hati ia berbisik,
“Terima kasih, Ya Allah.”
Air matanya menggenang. Bukan lagi air mata ketakutan.
Melainkan air mata syukur. Karena ternyata, setelah kehilangan suami bertahun-tahun lalu, Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkannya sendirian. Tuhan hanya mengajarinya satu hal:
Ketika manusia merasa tidak punya siapa-siapa, sebenarnya pertolongan Tuhan bisa saja sedang berjalan menuju dirinya—melalui jalan yang tak pernah ia sangka.
Bus terus melaju. Lampu-lampu malam berkelebat di luar jendela. Di dalam bus, anak-anak muda tertawa. Devano tertidur dengan tenang. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang penuh kecemasan, Bu Nirina membiarkan dirinya tersenyum.
Perjalanan pulang itu bukan sekadar perjalanan dari Jogja menuju Lampung. Itu adalah perjalanan seorang ibu yang baru saja belajar kembali tentang kehilangan, ketakutan, pertolongan, dan syukur. Sebab terkadang, manusia baru menyadari betapa berharganya sebuah napas…
setelah ia hampir kehilangannya. Dan terkadang pula, di ujung napas yang hampir putus—
ada tangan-tangan yang diam-diam telah dikirim Tuhan untuk menyelamatkan kita.