JEJAK SINGKAT DI JOGJA
Karya: Naufal XI TKJ 1
Ada perjalanan yang kita rencanakan jauh-jauh hari.
Ada pula perjalanan yang lahir dari kejenuhan, dari hati yang terlalu lama menyimpan sesuatu, atau dari keinginan sederhana untuk menjauh sebentar dari tempat yang setiap sudutnya menyimpan kenangan.
Perjalananku ke Jogja adalah jenis yang kedua.
Aku tidak benar-benar tahu apa yang kucari ketika kereta membawaku menuju kota itu. Mungkin ketenangan. Mungkin jawaban. Atau mungkin sekadar tempat untuk meletakkan sebentar rasa lelah yang selama ini kupanggul sendirian.
Yang kutahu, pagi itu aku ingin pergi.
Bukan untuk melupakan seseorang.
Hanya ingin belajar bagaimana caranya mengingat tanpa merasa terluka.
Kereta tiba ketika matahari mulai meninggi.
Aku turun bersama puluhan penumpang lain. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing, membawa koper, tas, oleh-oleh, bahkan wajah-wajah yang menyimpan cerita yang tidak pernah kuketahui.
Aku berdiri sebentar di peron.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak terburu-buru. Jogja seperti memiliki cara sendiri untuk membuat waktu berjalan lebih lambat.
Aku menarik napas panjang.
“Selamat datang,” bisikku kepada diri sendiri.
Entah kepada siapa sebenarnya kalimat itu kutujukan.
Mungkin kepada Jogja. Mungkin kepada diriku yang baru saja mencoba pulang kepada dirinya sendiri. Aku meninggalkan stasiun dan menuju Malioboro. Jalan itu sudah ramai. Kendaraan berlalu-lalang, pedagang menawarkan dagangan, suara langkah kaki bercampur dengan suara manusia yang datang dari berbagai arah.
Namun anehnya, keramaian itu tidak membuatku merasa asing.
Justru di tengah ribuan orang, aku menemukan kesunyian yang selama ini kucari.
Aku berjalan tanpa tujuan. Sesekali berhenti di depan toko. Sesekali memperhatikan pedagang kaki lima. Sesekali hanya melihat orang-orang yang tertawa bersama orang terkasih. Dulu, pemandangan seperti itu mungkin akan membuatku bertanya:
Mengapa bukan aku?
Hari itu pertanyaan tersebut tidak lagi muncul. Aku hanya tersenyum. Mungkin karena ada hal-hal yang akhirnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Menjelang sore, aku sampai di Tugu Jogja. Bangunan putih itu berdiri tegak di tengah lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi.
Aku berdiri di seberang jalan.
Memandanginya cukup lama.
Aneh.
Tugu itu tidak mengatakan apa-apa, tetapi entah mengapa aku merasa sedang diajak berbicara.
Tentang perjalanan. Tentang pulang. Tentang manusia yang terkadang harus pergi jauh hanya untuk menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama tinggal di dalam dirinya.
Aku teringat seseorang.
Seseorang yang pernah menjadi rumah bagi sebagian besar hariku. Namanya tidak perlu kusebut.
Ada nama-nama yang cukup disimpan dalam ingatan.
Bukan karena ingin melupakan, tetapi karena menyebutnya kembali terkadang seperti membuka pintu yang sudah susah payah ditutup.
Dulu, aku mengira kehilangan adalah akhir dari segalanya.
Aku mengira setelah seseorang pergi, hidup akan berubah menjadi ruang kosong yang tidak mungkin diisi lagi.
Ternyata aku salah.
Kehilangan tidak selalu membuat hidup kosong. Kadang-kadang, kehilangan justru mengajarkan kita untuk mengisi hidup dengan diri sendiri. Aku duduk di sebuah tempat tidak jauh dari Tugu.
Angin sore menyentuh wajahku. Untuk pertama kalinya, aku mengingatnya tanpa merasa ingin kembali.
Rindu masih ada.
Tetapi rindu itu telah berubah bentuk.
Ia tidak lagi seperti pisau.
Ia menjadi semacam bayangan yang berjalan di belakangku masih ada, tetapi tidak lagi menentukan ke mana aku harus melangkah.
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih,” kataku dalam hati. Bukan kepadanya. Melainkan kepada masa lalu. Karena pernah mengajarkanku bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita miliki selamanya.
Malam turun perlahan di Jogja. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Aku menuju Alun-Alun Kidul.
Orang-orang memenuhi kawasan itu. Ada yang duduk santai, bercanda bersama teman, menikmati jajanan, atau sekadar menghabiskan malam tanpa alasan yang penting.
Aku tertarik pada dua beringin yang berdiri di tengah lapangan.
Konon, orang yang mampu berjalan melewati keduanya dengan mata tertutup dianggap memiliki hati yang bersih.
Aku tertawa kecil mendengar cerita itu. “Boleh juga dicoba.” Aku menutup mata. Satu langkah.
Dua langkah. Tiga langkah. Aku mencoba berjalan lurus. Namun beberapa detik kemudian terdengar suara orang tertawa.
Aku membuka mata. Ternyata aku sudah berjalan jauh menyimpang. Beringin itu berada di sebelah kiri. Aku bahkan tidak mendekatinya. Aku tertawa. Bukan karena gagal.
Tetapi karena tiba-tiba aku memahami sesuatu. Barangkali hidup memang seperti itu. Kita sering membuat garis lurus di kepala. Menentukan harus ke mana. Menentukan siapa yang harus tinggal. Menentukan kapan harus berhasil. Menentukan seperti apa masa depan seharusnya.
Namun kehidupan tidak pernah benar-benar berjalan sesuai garis yang kita gambar.
Ada belokan. Ada jalan buntu. Ada persimpangan. Ada seseorang yang datang lalu pergi. Ada harapan yang tumbuh, kemudian gugur sebelum sempat menjadi kenyataan. Dan terkadang kita tersesat. Tetapi tersesat bukan berarti selesai.
Selama kaki masih mau melangkah, selalu ada kemungkinan menemukan jalan lain. Aku memandang kedua beringin itu.
“Tidak apa-apa kalau langkahku tidak selalu lurus,” gumamku.
“Mungkin aku hanya sedang mencari jalan yang berbeda.”
Malam itu, aku tertawa lebih banyak daripada yang kuingat selama beberapa bulan terakhir.
Perutku mulai lapar. Aku berjalan menyusuri jalan yang diterangi lampu-lampu kecil hingga menemukan sebuah warung sederhana. Tidak ada papan nama besar. Tidak ada dekorasi mewah.
Hanya beberapa meja, kursi sederhana, dan aroma gudeg yang sejak tadi menggoda hidung.
Aku duduk.
“Gudeg satu, Bu.” “Iya, Mas. Mau lengkap?” Aku mengangguk. “Lengkap saja.”
Tidak lama kemudian sepiring gudeg tersaji di hadapanku. Nasi putih, gudeg, telur, ayam, dan sambal krecek. Sederhana. Tetapi malam itu terasa seperti hidangan paling mewah yang pernah kumakan. Aku menyuapkan sesendok nasi.
Manis.
Hangat.
Pelan-pelan rasa makanan itu memenuhi mulutku, lalu entah bagaimana membuat sesuatu di dalam dada ikut menghangat.
Ibu pemilik warung duduk tidak jauh dariku.
“Sendirian, Mas?”
“Iya, Bu.”
“Dari mana?”
“Lampung.”
“Jauh.”
Aku tersenyum.
“Lumayan, Bu.”
Ibu itu ikut tersenyum.
“Kadang memang harus jauh-jauh kalau mau menemukan sesuatu.” Aku terdiam.
Sendok di tanganku berhenti. Aku menatapnya.
“Maksudnya, Bu?”
Ia tertawa kecil.
“Ya, tidak tahu juga. Ibu cuma ngomong.”
Aku ikut tertawa.
Tetapi kalimat sederhana itu tinggal lebih lama daripada yang seharusnya. Kadang memang harus jauh-jauh kalau mau menemukan sesuatu.
Malam itu aku sadar.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari orang lain untuk membuatku merasa utuh. Padahal yang sebenarnya hilang bukan seseorang. Melainkan diriku sendiri.
Dan perjalanan ini perlahan membawaku kembali.
Pagi berikutnya, aku bersiap pulang. Aku berdiri sebentar sebelum meninggalkan Jogja. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Aku baru beberapa hari berada di kota ini.
Tetapi rasanya seperti telah meninggalkan sebagian beban hidupku di setiap tempat yang kulewati.
Di Malioboro, kutinggalkan kegelisahan.
Di Tugu, kutinggalkan sebagian rindu.
Di antara dua beringin, kutinggalkan keinginan untuk selalu berjalan lurus.
Dan di sebuah warung gudeg sederhana, mungkin kutemukan kembali diriku.
Aku tidak tahu apakah Jogja benar-benar menyembuhkan luka.
Barangkali tidak.
Luka yang terlalu lama tidak sembuh hanya karena seseorang mengunjungi sebuah kota.
Tetapi Jogja memberiku sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Ia memberiku ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk mengingat. Ruang untuk menerima.
Dan terutama, ruang untuk memaafkan. Bukan memaafkan seseorang yang telah pergi. Melainkan memaafkan diriku sendiri karena pernah begitu lama menyalahkan keadaan. Ketika kendaraan yang membawaku meninggalkan Jogja, aku menoleh ke belakang.
Kota itu perlahan menjauh. Jalan-jalannya mengecil di kejauhan. Bangunan-bangunan menjadi bayangan. Namun ada sesuatu yang tetap tinggal. Bukan foto. Bukan oleh-oleh. Bukan pula kenangan tentang seseorang.
Melainkan sebuah ketenangan kecil yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Aku tersenyum.
Ternyata perjalanan tidak selalu tentang menemukan tempat baru. Kadang-kadang, perjalanan adalah cara paling sunyi untuk menemukan diri sendiri.
Dan Jogja—
hanya menjadi persinggahan singkat dalam perjalanan panjang itu. Tetapi jejaknya, entah mengapa, tinggal lebih lama daripada yang kuduga.