Pagi itu terasa berbeda.
Di teras rumah, sinar matahari jatuh perlahan di atas lantai bermotif cokelat. Udara masih sejuk. Biasanya, suasana seperti itu selalu diramaikan oleh suara lima ekor anak kucing yang berlarian ke sana kemari.
Namun hari itu, hanya satu suara kecil yang terdengar.
“Meong…”
Lili Pratiwi.
Anak kucing betina berbulu putih dengan corak oranye itu berjalan pelan mendekati ibunya. Sang ibu, kucing betina belang tiga berwarna hitam, putih, dan cokelat, langsung mengangkat kepalanya.
Lili mendekat.
Sang ibu mengulurkan kaki depannya dan memeluk tubuh kecil Lili.
Entah kenapa, pemandangan itu membuatku terdiam cukup lama.
“Lili… kamu sekarang sendirian, ya?”
Lili hanya menatapku.
“Meong.”
Seolah-olah dia menjawab, Iya, Om. Aku juga bingung.
Aku tersenyum kecil.
“Bukan Om. Aku majikanmu.”
Lili memalingkan wajah.
Aku tertawa.
“Wah, sombong sekali. Baru jadi anak tunggal sudah tidak mau mengakui majikan.”
Ibunya tetap memeluk Lili.
Dan saat itulah semua kenangan tentang lima anak kucing itu kembali terbayang.
Sebulan yang lalu, rumah ini jauh lebih ramai.
Lima ekor anak kucing lahir dari seekor ibu kucing yang sekarang sedang memeluk Lili.
Empat jantan dan satu betina.
Aku memberi mereka nama satu per satu.
Yang pertama Timbul.
Namanya memang aneh, tetapi cocok sekali. Setiap kali aku datang, dia selalu tiba-tiba muncul dari bawah kursi.
“Dari mana kamu, Timbul?”
Meong!
Tiba-tiba muncul.
Itulah Timbul.
Anak kedua bernama Basuki. Dia paling suka tidur. Kalau saudara-saudaranya bermain, Basuki malah mencari tempat paling nyaman lalu tidur seolah-olah sudah bekerja lembur selama tiga puluh tahun.
“Basuki, bangun!”
Tidak bergerak.
“Basuki!”
Satu telinganya bergerak.
“Bangun, Ki.”
Dia membuka mata sebentar, kemudian tidur lagi.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kalau kamu manusia, mungkin sudah jadi pejabat. Kerjanya kelihatan sibuk, tapi sebenarnya tidur.”
Kemudian ada Jojon.
Jojon paling lincah. Hobinya mengejar ekornya sendiri. Kadang dia berputar-putar sampai akhirnya kehilangan keseimbangan.
Aku pernah melihatnya berlari mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
“Jojon! Kamu mengejar apa?”
Dia berhenti.
Menatapku.
Kemudian berlari lagi.
Mungkin dalam pikirannya ada masalah besar yang hanya bisa diselesaikan dengan berlari.
Yang terakhir dari empat jantan adalah Asmuni.
Asmuni memiliki wajah yang lucu. Dia sering duduk paling depan ketika aku memberi makan.
Saudara-saudaranya belum tentu lapar, tetapi Asmuni sudah duduk dengan wajah memelas.
“Belum waktunya makan.”
Meong.
“Jangan pura-pura kelaparan.”
Meong.
“Kamu baru makan.”
Meong.
“Ya sudah. Sedikit.”
Begitulah.
Lalu ada satu-satunya betina.
Lili Pratiwi.
Lili berbeda dari saudara-saudaranya. Dia lebih tenang. Kalau yang lain berlari ke sana kemari, Lili lebih suka tidur dekat ibunya.
Aku sering bercanda,
“Lili, kamu ini perempuan paling kalem di keluarga.”
Lili menjilat kakinya.
“Wah, tidak jawab.”
Tetapi kehidupan tidak selalu memberikan cerita yang kita inginkan.
Timbul menghilang.
Awalnya kukira dia hanya bermain terlalu jauh.
“Paling nanti pulang.”
Tetapi Timbul tidak kembali.
Kemudian Basuki ikut hilang.
Jojon juga.
Satu demi satu mereka pergi tanpa kabar.
Aku masih berharap suatu hari mereka muncul di depan rumah.
Mungkin Timbul datang sambil berkata, “Maaf, saya habis jalan-jalan.”
Mungkin Basuki pulang dengan wajah mengantuk.
Mungkin Jojon tiba-tiba muncul dari balik pot bunga.
Tetapi harapan itu belum terwujud.
Dan kemudian datang kabar paling menyedihkan.
Asmuni wafat setelah terlindas mobil.
Aku terdiam ketika mengetahuinya.
Tidak ada kata-kata lucu yang bisa keluar.
Tidak ada candaan tentang tingkahnya.
Yang tersisa hanya kenangan tentang anak kucing kecil yang selalu meminta makan.
Sejak saat itu, rumah terasa jauh lebih sepi.
Dari lima anak kucing, kini hanya tersisa satu.
Lili Pratiwi.
Aku memandangnya pagi itu.
Lili sedang tidur dalam pelukan ibunya.
Sang ibu menjilati kepala anaknya dengan lembut.
Lili kemudian bergerak sedikit, lalu semakin merapat ke tubuh ibunya.
Seakan-akan dia tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya yang tersisa.
Aku duduk di dekat mereka.
“Lili…”
Kedua telinganya bergerak.
“Saudara-saudaramu sudah tidak ada.”
Lili membuka mata.
Aku mengusap kepalanya pelan.
“Kamu jangan ikut pergi, ya.”
Lili menatapku.
Meong.
Aku tersenyum.
“Iya. Kamu harus sehat.”
Ibunya kembali memeluk Lili.
Pemandangan itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada janji.
Hanya seekor ibu yang memeluk anaknya.
Dan seekor anak yang masih memiliki tempat untuk pulang.
Aku kemudian berpikir, mungkin kasih sayang memang tidak selalu membutuhkan bahasa.
Seekor ibu kucing tidak tahu bagaimana mengatakan, “Ibu akan menjagamu.”
Tetapi pelukannya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
Aku mengambil makanan dan meletakkannya di depan mereka.
“Ini untuk Lili.”
Lili langsung bangun.
Aku tertawa.
“Wah, ternyata kalau soal makanan, kesedihan langsung hilang.”
Lili berjalan menuju tempat makan.
Ibunya mengikuti.
Aku kembali tertawa.
“Lili, tunggu! Jangan semuanya dimakan. Kamu baru saja kehilangan saudara, bukan kehilangan nafsu makan!”
Lili tidak peduli.
Dia makan dengan lahap.
Aku menggeleng.
“Ya sudah. Makanlah. Yang penting kamu sehat.”
Selesai makan, Lili kembali ke samping ibunya.
Sang ibu kembali memeluknya.
Aku memandangi keduanya sambil tersenyum.
Dalam hati aku berkata,
Timbul, Basuki, Jojon, dan Asmuni mungkin sudah tidak bersama kami. Tetapi kalian pernah membuat rumah ini penuh tawa.
Dan Lili… kamu adalah satu-satunya yang tersisa.
Aku berharap dia tumbuh sehat.
Semoga dia selalu pulang.
Semoga tidak ada lagi kehilangan.
Dan semoga pelukan ibunya selalu menjadi tempat ternyaman baginya.
Aku mungkin hanya seorang majikan.
Tetapi setelah melihat mereka tumbuh sejak kecil, rasanya mereka bukan sekadar kucing.
Mereka sudah menjadi bagian kecil dari kehidupan.
Aku mengusap kepala Lili.
“Lili Pratiwi…”
Dia menoleh.
“Jangan ke mana-mana, ya.”
Lili mengeong pelan.
“Meong…”
Aku tersenyum.
“Baiklah. Aku anggap itu janji.”
Di sampingnya, sang ibu memejamkan mata sambil tetap memeluk anaknya.
Sementara aku duduk menemani mereka.
Lima anak pernah hadir.
Tiga menghilang tanpa kabar.
Satu pergi untuk selamanya.
Dan kini hanya Lili yang tersisa.
Namun selama Lili masih ada, rumah ini belum benar-benar kehilangan semuanya.
Sebab di dalam pelukan seekor ibu, masih ada cinta.
Dan di dalam hati seorang majikan, masih ada kenangan.
Untuk Timbul, Basuki, Jojon, dan Asmuni: kalian pernah hadir, pernah membuat kami tertawa, dan akan selalu dikenang.
Untuk Lili Pratiwi: jadilah anak yang sehat, kuat, dan selalu pulang.
Karena sekarang, kamu bukan hanya anak terakhir. Kamu adalah satu-satunya cerita yang masih tersisa.