Langit senja mewarnai awan dengan jingga yang indah, menemani langkah kaki Raisa dan Surya menuju rumah kontrakan mereka. Tangan mereka erat tergenggam, rasa bahagia terpancar dari wajah mereka. Kontrakan kecil, terdiri satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi menjadi tempat memulai hidup baru.
Surya adalah seorang duda dengan dua anak dari pernikahan sebelumnya yang telah lama terpisah darinya akibat perselingkuhan mantan istrinya.
Kini, kehidupannya yang terbagi itu mulai terisi dengan kehadiran Raisa, seorang wanita berusia awal tiga puluhan, yang bersedia menjadi pendamping hidupnya.
Pernikahan mereka adalah babak baru, bukan hanya bagi Surya dan Raisa, tetapi juga sebagai jembatan untuk menyatukan kembali keluarga kecil yang mereka impikan.
Meskipun sederhana, kontrakan itu terasa nyaman bagi Raisa dan Surya. Dindingnya putih terpadu dengan kusen pintu jendela warna hijau seperti masjid tempat beribadah menawarkan ketenangan bagi mereka. Pasangan ini menghabiskan waktu bersama di kontrakan kecil itu dalam mempersiapkan kehidupan baru bersama kedua anaknya.
Keesokan hari setelah sampainya mereka di rumah kontrakan itu, masing-masing mulai melakukan aktivitasnya. Surya pergi ke kantor salah satu perusahaan peternakan dan Raisa mengajar di salah satu sekolah dalam satu kota. Hari-hari mereka disibukkan dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pegawai swasta dan negeri.
Setiap harinya beberapa kali mereka menelpon kedua anaknya Arni dan Fajri yang masih terpisah itu, untuk menanyakan apa pun tentang aktivitas mereka. Dan setiap hari pun kedua anak mereka selalu bertanya kapan waktunya untuk dapat berkumpul bersama ayah dan bundanya. Surya dan Raisa berusaha meyakinkan mereka bahwa semua perlu persiapan.
Persiapan utama menyelesaikan sekolah mereka yang tanggung satu semester lagi karena untuk melakukan pindah sekolah harus dimulai pada tahun ajaran baru. Arni dapat memahami semua rencana ayah bundanya, namun Fajri masih belum bisa menerima karena fikiran bocah kecil itu masih menganggap ayahnya sama seperti ibunya.
Hari-hari Surya dan Raisa di kontrakan dan tempat kerja selalu diwarnai dengan laporan dari emak (orang tua Surya) di Kampung tentang keadaan Fajri yang naik dan turun. Fajri yang sering tantrum di usia nya yang sudah 10 tahun itu menunjukkan kondisi jiwanya yang berontak tidak bisa menerima keadaan yang belum juga dapat tinggal bersama ayah bunda.
Pada salah satu hari tiba-tiba Surya dan Raisa mendapat telepon dari emak yang mengabarkan Fajri kembali tantrum. Usianya yang masih kecil berbicara seperti orang di atas umurnya. “ Mak, mana Fajri ?” Surya bertanya dari ponselnya. “Itu lagi marah-marah” jawab emak sambil membujuk Fajri menerangkan bahwa ada telepon dari ayahnya.
“Ayah bohong !” teriak Fajri dari kejauhan telepon. Emak yang masih memegang telepon memberikan kabar kepada Surya bahwa sabar sebentar emak akan membujuk Fajri sampai tenang. Surya pun hanya bilang ke emak terima kasih karena telah berusaha mengurus Fajri selama mereka mempersiapkan semuanya mengajak anak-anak kumpul bersama.
Di saat Fajri sudah tenang, Surya kembali menelponnya. Kali ini Fajri mau bicara dengan Surya, namun aneh apa yang dia bicarakan. “Hatiku sakit bagai ditusuk-tusuk pisau bermata dua ! “ begitu ucapan Fajri ditelepon dengan nada marah. “Ada apa Nak, ?“ jawab Surya dari telepon dengan penuh ketenangan dan kelembutan.
Setelah beberapa saat akhirnya Fajri pun mau bicara dengan ayahnya. Dia kembali mengungkapkan keinginannya untuk cepat tinggal bersama ayah bunda. Dengan penuh kesabaran Surya menjelaskan tentang masalah sekolah. Dan berjanji bulan depan, Desember Surya menjemput Arni dan Fajri untuk liburan di Kontrakan.
Sebulan telah berlalu, tepat hari yang dijanjikan Surya untuk menjemput kedua anaknya liburan bersama di kontrakan. Terlihat Fajri yang begitu bersemangat di pagi hari itu. Senyum dan tawa selalu terpancar di wajahnya karena menanti kedatangan ayah dan bunda menjemputnya liburan kumpul bersama untuk pertama kalinya.
“Assalamu’alaikum “ ucapan salam Surya saat memasuki rumah emak dan Abah (ayah Surya). “Wa’alaikumsalam, Ayah Bunda” sahut dua bocah kecil dari dalam kamar sambil berlarian menyambut kedatangan ayah dan bundanya. Arni dan Fajri berkata kepada ayah dan bundanya bahwa mereka telah siap pergi ke kontrakan untuk liburan bersama.
Perjalanan yang ditempuh begitu panjang selama 7 jam karena jalan yang rusak dan jelek tidak membuat Arni dan Fajri bosan. Tampak di wajah mereka kesenangan dan kegembiraan yang sangat dalam karena dapat bersama ayah dan bundanya. Keadaan suasana yang sangat dinanti-nanti mereka sejak lama.
Langit malam bagaikan kanvas hitam dihiasi permata berkilauan, yaitu bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Cahaya rembulan lembut menerangi bumi, membungkus alam dengan selimut ketenangan menemani langkah Surya, Raisa, Arni, dan Fajri sampai di rumah kontrakan mereka.
Di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan, menciptakan simfoni alam yang merdu pun turut bersama langkah kaki mereka berempat memasuki rumah kontrakan tersebut. Untuk pertama kali Arni dan Fajri melihat bahwa ayah dan bundanya tinggal di kontrakan yang sangat sederhana itu.
Ini merupakan hal pertama dari salah satu jawaban atas sejuta tanya mereka berdua tentang alasan belum mengajak mereka tinggal bersama. “ Bagaimana Nak, kontrakan bunda? Raisa bertanya kepada Arni dan Fajri dengan menatap penuh kasih. “ Kecil tapi nyaman, Bunda” jawab Arni dengan penuh keceriaan.
“ Menurutmu gimana, Fajri ? “ kembali Raisa bertanya kepada bocah laki-laki kecil yang sedang mundar mandir dari depan ke belakang, “Sempit, Kamarnya hanya 1 ya “ Fajri banyak bertanya kepada Raisa. “Ya Nak, “ ujar Raisa sambil menganggukan kepalanya. Surya pun menjelaskan kepada kedua anaknya, ini alasan belum bisa bersama.
Esok harinya, Surya seperti biasa pergi ke Kantor. Sementara Raisa yang berprofesi sebagai seorang guru libur seperti kedua anaknya. Hari ini untuk pertama kali Raisa menyelami kondisi jiwa dan mental kedua anak sambungnya. Ada banyak buku yang dia baca untuk memahami kejiwaan anak korban perceraian sebelum pernikahannya.
Setelah melepas kepergian Surya ke kantor, Raisa dan kedua anaknya pun berbincang, bercengkrama, bercerita. Terpancar di wajah mereka rasa riang gembira dalam berbagi cerita. Arni banyak menceritakan kondisi Fajri setelah pulang dari acara pernikahan ayah bunda. Sementara Fajri sering membantahnya yang menunjukkan cerita itu tidak benar.
Perbincangan cukup seru antara seorang ibu sambung dengan kedua anaknya seakan lebur tanpa adanya batasan. Raisa yang sejak awal jatuh cinta dengan kedua anak Surya tersebut tidak merasa adanya sebuah kenyataan bahwa mereka bukan terlahir dari rahimnya.
Di sisi lain Arni dan Fajri yang telah lama merindukan belaian cinta dan kasih sayang sosok seorang ibu yang tak pernah mereka dapatkan lagi setelah tragedi perselingkuhan ibunya, merasa sangat nyaman dengan Raisa. Pertemuan semua hati tulus karena Allah ini berujung sebuah kebahagiaan bagi semuanya.
Aktivitas liburan mereka setiap hari diwarnai dengan kebersamaan di rumah dan jalan ke pantai dekat kontrakan pada sore hari selepas Surya pulang dari kantor. Walau hanya aktivitas ringan seperti itu sudah membuat Arni dan Fajri senang karena mereka merasa punya keluarga kecil baru untuk menggapai asa di masa depannya.
Raisa sebagai seorang guru pun berusaha mengamati kondisi kejiwaan mental kedua anak sambungnya setiap hari selama liburan. Dan jika ada sesuatu yang kurang pas dari yang seharusnya, maka Raisa berusaha menjelaskan dan memberi nasihat kepada kedua anak sambungnya tersebut. Utama masalah nilai, akhlak, sikap prilaku, dan adab.
Tiba pada salah satu hari, Raisa terkagetkan dengan permintaan Fajri bocah laki-laki berumur sepuluh tahun yang mengalami guncangan jiwa sangat dalam atas semua peristiwa, utama perceraian ayah ibunya. “Bunda Boleh aku minta sesuatu? “ Fajri berbicara kepada Raisa mengharapkan permintaannya dipenuhi.
Permintaan Fajri saat itu adalah bagaimana Raisa dan Fajri bisa bersatu dalam aliran darah. Di usianya yang kecil, karena ada sedikit guncangan jiwa terkadang membuat Fajri berbicara tidak sesuai dengan usianya. Aliran darah di sini Fajri menjelaskan supaya bunda selalu sayang dan tidak akan pernah meninggalkan Fajri.
Dia mengungkapkan jika anak yang terlahir dari rahim bunda tentu ada aliran darah yang mengalir di tubuh anak itu dengan cara meyusuinya. Saat itu Fajri mengatakan klo dia bukan terlahir dari rahim bunda, maka tidak ada aliran darah bunda di tubuhnya. Untuk itu dia minta kepada bunda supaya mau membuat aliran darah di dalam tubuhnya.
Mendengar permintaan Fajri itu, Raisa pun langsung memeluk Fajri dengan erat sambil berkata. “ Nak walaupun kamu tak terlahir dari rahim bunda, dan tidak ada aliran darah yang menyatu diantara kita, maka bunda tetap akan menyayangimu selamanya dan tidak akan meninggalkanmu” Raisa berkata kepada Fajri sambil meneteskan air mata.
Fajri pun merasakan dekapan hangat pelukan Raisa sang ibu sambung yang saat ini sudah menjadi sosok yang dapat mengukir harapan baru di kemudian hari. Fajri pun menangis dan juga Arni datang menghampiri akhirnya mereka bertiga saling berpelukan. Setelah itu mereka tenang dan tertidur di lantai kamar.
Ketika mereka berdua tidur, Raisa mengambil Handphone nya dan menelpon Surya karena tidak dapat menahan cerita nanti saat Surya pulang kerja. Raisa bercerita secara detil semua kejadian tadi tentang permintaan Fajri. Raisa bilang kepada Surya, bahwa ada banyak hal yang perlu mereka bangun untuk mengembalikan jiwa mental kedua anaknya.
Perceraian Surya dengan ibu mereka sangat berdampak terhadap kondisi emosi jiwa keduanya. Hilangnya cinta kasih sayang seorang ibu di saat usia mereka yang masih sangat kecil menyebabkan adanya prilaku yang kurang pas dari permintaan Fajri kepada Raisa salah satunya. Hal ini bisa diatasi dengan ketulusan bunda menyayangi mereka.
Dari telepon Surya bicara menguatkan Raisa untuk bersabar atas permintaan Fajri tersebut. Surya berjanji untuk bersama meberi pengertian kepada Fajri atas permintaannya itu tidak mungkin dikabulkan Raisa. Dan berusaha menjelaskan bahwa Raisa akan selalu menyayangi Fajri dan tidak akan pernah meninggalkannya.
Liburan di kontrakan pun telah usai. Arni dan Fajri harus balik ke rumah emak dan abah karena esok sudah masuk sekolah. Ada rasa kecewa mereka berdua karena harus berpisah lagi dengan ayah bundanya. Surya dan Raisa menguatkan kedua anaknya bahwa setelah kenaikan kelas mereka benar-benar akan dijemput untuk tinggal bersama.
Kisah ini menunjukkan bahwa perceraian itu selalu berdampak pada penurunan kondisi jiwa dan mental dari anak-anak. Mereka selalu menjadi korbannya. Permintaan Fajri kepada Raisa yang tidak sepatutnya untuk bocah usia 10 tahun itu menjelaskan bahwa Fajri mempunyai rasa kuatir yang terlalu sangat akan dikhianati kembali oleh bundanya.
Guncangan kejiwaan membuat anak-anak korban perceraian berfikir di luar batas usia mereka. Hal itu timbul karena adanya kekecewaan yang sangat dalam. Untuk itu diperlukan adanya sentuhan pengaganti yang membawa cinta dan kasih sayang baru bagi mereka. Ketulusan dapat mengatasi trauma-trauma perceraian terhadap anak.
Perceraian bagi pasangan hendaknya tidak melahirkan kesenangan sendiri bagi orang tua. Artinya setiap anak itu membutuhkan cinta dan kasih sayang utuh dari kedua oarng tua itu. Untuk itu perlu dipersyaratkan dalam pernikahan kedua ialah keselamatan jiwa mental sang anak yang diutamakan dalam membuat keputusan.