Langit sore dihiasi jingga yang memukau, namun tak mampu menembus pekatnya duka di hati Zara. Di balik jendela kamarnya, Zara duduk termenung hanyut dalam lamunan, tatapannya kosong menerawang jauh.
Pikirannya melayang, kembali ke hari ketika pertengkaran hebat ayah dan ibunya pecah di salah satu area umum di kota, meninggalkan luka perpisahan yang begitu dalam dan tak terhapuskan di benaknya.
Hatinya hampa setiap kali ingatan itu berkelebat, seolah dentuman pertengkaran itu masih menggaung pilu di gendang telinganya, meremukkan sisa-sisa kebahagiaan masa kecilnya.
Saat itu luka di hati Zara terasa perih, bagaikan luka fisik yang tak terlihat karena baru saja menerima kabar perceraian orang tuanya.
Bagi banyak orang, mungkin kabar itu biasa. Namun, bagi Zara sosok bocah perempuan cerdas dan periang itu selalu mendambakan keluarga yang utuh, maka kabar itu bagaikan petir di siang bolong.
Sementara Algi bocah laki-laki anak kedua Vino masih terpaku pada jendela kamarnya. Tatapannya pun kosong, memindai jalanan lengang di luar sana. Sesekali, air mata menetes membasahi pipinya.
Luka masa lalu membekas jelas di benaknya. Perselingkuhan sang ibu dan perceraian orang tuanya pun meninggalkan luka di hatinya.
Sejak kecil, Zara dan Algi selalu menjadi saksi pertengkaran orang tuanya. Pertengkaran itu semakin sering terjadi setelah ibunya mulai sering pergi meninggalkan mereka jalan-jalan kencan dengan pacarnya.
Zara dan Algi berusaha tegar, namun hatinya selalu terluka melihat ayahnya kecewa. Kini, pernikahan orang tuanya benar-benar berakhir.
Perceraian itu memaksa Zara dan Algi menuruti sang ayah pindah ke rumah kakek-nenek, di desa yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Keduanya tak punya pilihan untuk tetap bersama ayah atau ibu mereka. Tinggal bersama kakek dan neneknya terasa begitu berat bagi Zara dan Algi.
Sementara Vino, tak berlarut lama dalam kesedihan. Dia sangat memahami kedua anaknya memiliki luka dalam akibat perceraiannya dengan Trena ibu mereka.
Bagi Vino kedua anaknya harus tetap mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Untuk itu Vino tidak pernah terlaut dalam kesdihan namun selalu membuka diri untuk mencari pengganti Trena sebagai ibu bagi Zara dan Algi.
Tibalah saat yang dinanti, hari di mana setelah dua tahun Vino menduda dan hidup terpisah dari kedua anaknya, sebuah perkenalan baru terjadi.
Rizki, teman satu organisasi tempat mereka menuntut ilmu agama, yang juga seorang pengajar di salah satu sekolah kejuruan, mempertemukan Vino dengan Aisyah, seorang guru perempuan yang usianya sudah cukup matang.
Perkenalan Vino dengan Aisyah melalui Rizki ini membawa energi baru bagi Vino. Dalam benaknya, harapan untuk membina rumah tangga baru, dan menemukan sosok ibu yang bisa kembali menyayangi kedua anaknya, kembali menyala.
Meski perkenalan itu belum terlalu lama, Vino akhirnya memberanikan diri meminta Bu Guru Aisyah untuk mendekati Zara dan Algi, kedua anaknya yang masih memendam luka mendalam sejak perceraiannya dengan Trena dua tahun silam.
Vino melakukan ini karena mereka berdua telah berencana untuk menikah, kendati hubungan mereka masih terbilang baru.
Luka tak terlihat yang dialami Zara dan Algi senantiasa diceritakan kepada Aisyah, baik saat mereka bertemu langsung maupun melalui telepon. Sejak pertemuan awal itu, meskipun terpisah jarak, hubungan mereka kian dekat berkat komunikasi intens. Zara, khususnya, sangat sering menelepon Aisyah, ingin berbagi cerita apa saja.
Di tengah persiapan pernikahan Vino dan Aisyah yang hanya memakan waktu dua pekan, Aisyah terus membangun komunikasi yang intens dengan menelepon Zara dan Algi. Bahkan, lebih seringnya justru Zara dan Algi yang lebih dulu menelepon Aisyah. Mereka merasa senang bisa mencurahkan isi hati dan berbagi apa saja dengan calon ibu pengganti mereka.
Sebagai pendidik, Aisyah berusaha menyelami kondisi mental kedua anak Vino tersebut. Kondisi mental anak korban perceraian biasanya jatuh, terpuruk sampai merubah karakter asli mereka. Aisyah menilai Algi mengalami goncangan yang lebih berat daripada Zara karena usianya masih sangat kecil untuk menerima kabar perceraian ayah dan ibunya.
Luka yang tak terlihat di hati Algi sangat dalam sehingga membuatnya berfikir, berbicara, dan bertindak tidak sesuai dengan usianya. Dalam pendekatan dua pekan menjelang pernikahan dengan Vino, Aisyah selalu berusaha untuk menyentuh hati Algi dengan sering mengajaknya ngobrol santai via telepon.
“Halo Algi, Assalamualaikum, apa kabar?” sapa Aisyah, memulai percakapan telepon. “Kabar baik Bunda.” jawab Algi dengan suara lirih terdengar di telinga Aisyah. “Bunda, boleh aku bertanya? “ Tanya Algi selanjutnya dengan nada penuh antusias. “Baik silakan sayang !” jawab Aisyah diliputi rasa penasaran.
“Apa bunda bisa buat aku bahagia setelah menikah dengan ayah?” suara Algi dengan nada penuh harap dari ujung telepon. “Tentu sayang.” Jawab Aisyah dengan tegas tanpa keraguan. “Bolehkah aku meminta kepada Allah untuk menghapus rasa cintaku kepada Ibu?” suara Algi terasa bergetar di ujung telepon kembali bertanya kepada Aisyah.
Algi menjelaskan kepada Aisyah bahwa ibunya telah membuat dia kecewa dengan perselingkuhannya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa Algi masih sangat mencintai ibunya. Rasa cinta Algi ini sepertinya tidak akan pernah membuat dia bahagia dengan pilihan hidup ibunya. Untuk itu Algi meminta Allah untuk menghapus rasa cinta tersebut.
“ Bunda bolehkah jika aku ingin hidup bahagia bersama Bunda bukan dengan Ibu !” kembali suara Algi terdengar lirih seperti menahan rasa rindu kasih sayang seorang ibu. “ Ya sayang, semoga Allah mentakdirkan Algi hidup bersama Bunda dengan penuh kebahagiaan “Aisyah harus menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menahan air mata yang mendesak keluar.
Terdiam sejenak setelah menjawab pertanyaan Algi, sehingga membuat Aisyah ingin selalu membahagiakan dua bocah ini kelak setelah resmi menjadi istri Vino dan Bunda mereka. Ada sejuta rasa cinta Aisyah yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata saat berinteraksi selama dua pekan via telepon sambil mempersiapkan pernikahan.
Aisyah merenungi pembicaraan dengan Algi sesaat setelah menutup telepon. Sungguh parah luka hati Algi sampai akan menghapus rasa cinta dia terhadap ibunya. Aisyah bertekad dalam hati bahwa kedatangannya dalam kehidupan Zara dan Algi dapat membawa secercah cahaya baru dalam kehidupan mereka.
Perlahan tapi pasti, Aisyah terus berusaha untuk menyelami kepribadian Zara dan Algi yang mengalami goncangan hebat, hidup terpisah dari kedua orang tuanya selama dua tahun. Dengan tinggal di rumah kakek nenek di Kampung yang sangat jauh berbeda dari kehidupan mereka berdua sebelumnya.
Aisyah terus berusaha menjadi seorang pendengar yang baik bagi Zara dan Algi untuk berbagi cerita apa saja dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Dia mendengarkan penuh perhatian ketika kedua anak Vino ini ingin menceritakan perasaan-perasaan kecewa mereka yang menjadi korban perceraian kedua orang tuanya.
Zara dan Algi merasa nyaman dapat bercerita apa pun dengan Aisyah calon Ibu pengganti mereka. Kehadiran Aisyah dalam kehidupan Zara dan Algi bagaikan cahaya yang menerangi kegelapan di hati mereka. Kedua anak ini menaruh harapan besar dapat kembali tinggal hidup bersama Vino sang ayah tercinta dan Aisyah calon bunda mereka.
Kisah perceraian Vino dan mantan isterinya membuat kedua anak mereka menjadi korban. Perceraian membuat luka tak terlihat di hati anak. Namun cinta dan kasih sayang dapat membalut luka yang paling dalam sekalipun. Cahaya cinta dan kasih sayang dapat menerangi jalan kelam dan membawa harapan baru di masa depan.