Senja Kalianda: Ikrar Suci di Gerbang Keberangkatan
Langit Kalianda sore itu terbakar merah, seolah ikut menahan nafas, menyaksikan sebuah janji suci. Di sudut Pool Bus Rosalia Indah yang remang oleh senja, berdirilah sebuah keluarga: seorang ayah, bunda, dan kedua putra mereka, Syauqi dan Faruq adiknya.
Mata mereka terpaku pada bayangan besar yang mendekat Bus Rosalia Indah yang membawa rombongan santri menuju Solo. Bus itu akhirnya merapat di Pool Kalianda, lampu utamanya menyala garang, siap mengangkut satu lagi penumpang harapan.
Syauqi, santri dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro, terasa asing di tengah imaji anak-anak sebayanya. Matanya yang sipit dan tajam tidak memancarkan hasrat ‘mabar’ (main bareng) game daring, melainkan keteguhan baja seorang pejuang.
Hari ini, ia akan memulai ‘perjalanan mulia’ menuju Tawangmangu, Solo, untuk mengikuti Dauroh Qur’an 30 Juz selama dua bulan penuh.
Bunda Hikmah menggenggam erat tangan Syauqi, putra ketiganya. Matanya berkaca-kaca, sebab perjalanan menuntut ilmu untuk menghafal Al-Qur’an ini adalah perpisahan jarak jauh pertamanya dengan sang putra.
Hati Bunda masih hangat oleh kenangan percakapan telepon beberapa hari lalu, sebuah permintaan yang begitu mengejutkan.
“Bunda, izinkan Aa (panggilan Syauqi) ikut Dauroh Qur’an,” katanya dengan suara mantap, menolak mentah-mentah tawaran liburan akhir tahun yang gemerlap.
Permintaan itu kontras, melawan arus hiruk pikuk tren anak di bawah 13 tahun yang merengek untuk gawai ‘spek dewa’. Namun, Syauqi memilih ‘medan jihad’ di Tawangmangu.
“Aa yakin memilih jalan ini?” tanya Bunda, sekali lagi, mencari kepastian.
Syauqi menatap Bundanya lurus-lurus, pandangan seorang anak yang telah menemukan visinya.
“Target hidup Aa, jika Allah izinkan, menghafal Al-Qur’an secara qot’i (mutlak) saat lulus SMA nanti. Setelah itu, Aa mau cari beasiswa kuliah di Timur Tengah, kalau bisa di Madinah. Atau di Indonesia pun tak mengapa, di kampus yang membuka jalur beasiswa prestasi penghafal Al-Qur’an. Aa mau seperti Aa Fajar (kakaknya) yang bisa kuliah di Turki berkat beasiswa dari hafalan Qur’an. Aa nggak mau lagi menyusahkan Bunda soal biaya kuliah,” jawabnya, mengukuhkan visi besar itu.
Di Pool Rosalia Indah yang diselimuti jingga senja, janji itu terasa mengikat dan nyata.
“Baiklah, Nak,” ucap Bunda dengan suara serak, nyaris tak terdengar. “Pergilah. Jadikan Al-Qur’an cahaya yang menerangi setiap langkahmu.”
“Aa akan pulang dengan target 30 juz yang kuat, Bun. Doakan ya.”
Klakson panjang dari sopir, isyarat keberangkatan Bus Rosalia Indah jurusan Solo, memecah keheningan.
Syauqi mengambil tas ransel dan kopernya. Ia memeluk Bundanya, sebuah pelukan sarat pamit dan ikrar. Bunda merasakan, itu adalah pelukan seorang calon Hafizhul Qur’an, bukan sekadar bocah menjelang remaja.
“Jaga diri baik-baik, Nak. Ingat, hifzhul Qur’an itu perjuangan. Jika futur, ingatlah visi besarmu. Allah bersamamu,” bisik Bunda, mencium kening Syauqi dalam-dalam.
Syauqi mengangguk, melepaskan pelukan itu dengan senyum optimis. “Pasti, Bunda. Titip salam untuk semua keluarga. Sampai jumpa dua bulan lagi!”
Ia melangkah mantap menaiki tangga bus. Bunda melihat punggung putranya yang kian tegar, perlahan hilang di balik pintu.
‘ROSALIA INDAH’—tulisan di badan bus itu seolah membawa lebih dari sekadar penumpang. Ia membawa doa Bunda yang tak terputus, visi seorang anak yang membaja, dan ikrar suci untuk Al-Qur’an.
Ketika bus perlahan bergerak, meninggalkan pool Kalianda dan melaju membelah senja, Bunda berdiri di sana, memandang lampu belakang bus yang mengecil dan menghilang.
Air matanya akhirnya menetes, tetapi itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebanggaan tak terhingga.
“MaasyaaAllah Tabarakallah!” bisiknya dalam hati. “Ya Allah, anugerahkan umur panjang kepadaku agar aku bisa membersamai dan menyaksikan anakku menggapai cita-cita mulia ini.”
Bunda tahu, dua bulan ke depan akan terasa panjang. Namun, penantian itu akan diganjar dengan kemuliaan yang tak tertandingi: melihat putranya tumbuh menjadi ‘Syauqi Sholih’—kerinduan pada kebaikan, yang kelak menjadi mahkota di surga.
Sore menjelang magrib saat itu, di Pool Rosalia Indah Kalianda, tidak ada duka perpisahan, hanya ada keberangkatan yang dihiasi kemuliaan.