Kabut
By Indriyati Bahar
“Abah sadar, Abah gak berguna di rumah ini. Abah izin pergi sekarang, Abah mau berusaha cari uang dan kalau sudah cukup, Abah akan urus surat perceraian kita”, suara Yudhis terdengar parau saking sedihnya. Sesaat kemudian Yudhis mengambil handphone yang masih terhubung ke saklar listrik. Praba hanya diam mendengar suara getir suaminya, namun pikirannya bergolak. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya menahan langkah Yudhis. Perlahan Praba turun dari ranjang. Dia melangkah ke pintu, lalu menutup dan mengunci pintu kamar mereka. Anak kuncinya lalu dimasukkan ke dalam kantong bajunya. Dia Kembali ke ranjang, tidur meringkuk sambil merintih, seperti sedang demam. Lirih dia berucap, “Bah…. Abah… Kemari..”, ucap Praba sayup-sayup. Yudhis antara mendengar rintihan Praba dan tidak, namun nuraninya sebagai suami mendatangi istri kesayangannya. Entah berapa lama dan entah apa yang terjadi dalam hitungan menit, namun sanggup mengubah suasana awal tadi menjadi kontras. Wajah Yudhis tampak fresh dan bersahaja. Namun, jauh di relung hati Praba tersimpan rasa sakit yang hebat dan di bagian lain tubuhnya tersisa rasa nyeri yang membuatnya benci pada pelakunya. Sungguh satu rasa sakit tak enak yang sering dirasakannya setahun terakhir ini.
Senja di rumah itu selalu beraroma kayu tua dan kekecewaan yang tak terucap. Bagi Praba, usia lebih setengah abad bukan hanya penanda berhentinya siklus biologisnya sejak gerbang menopause itu terkunci namun juga dimulainya puasa batin yang tak terhindarkan. Jasadnya masih di sini, tetapi jiwanya telah lama terbang mencari tanah sunyi. Di antara sepasang bantal guling yang tersusun bak benteng, Praba membaringkan diri. Bantal-bantal itu adalah garis demarkasi, perbatasan kedaulatan terakhirnya di ranjang yang terasa asing. Dia tahu, di sisi lain benteng itu, terbaring Yudhis, pria dengan pundak yang kian loyo dan langkah yang pincang oleh sisa kecelakaan, namun ironis sepasang matanya masih menyimpan tuntutan biologis tak terpadamkan.
"Aku takut, Mam…," bisiknya pada malam beku yang kian menyiksa nalar sehatnya. Rasa jijik dan ngeri itu kini tumbuh menjulang setinggi menara Eiffel. Hubungan intim, satu frasa yang dulu ia kenal sebagai harmoni, kini menjadi sinonim pemerkosaan batin. Setiap sentuhan Yudhis meski hanya jari yang menjulur melewati batas guling adalah palu godam yang memecahkan ketenangan. Jiwanya meronta, membenci, dan memunculkan frigiditas yang kejam, sebuah kekeringan yang lebih parah dari ketiadaan air di sumur pascamusim kemarau. Kepercayaan dirinya runtuh menjadi remah-remah debu, terbawa angin masa lalu. Dia sering memandangi bayangan dirinya di cermin, seorang wanita pekerjal yang loyal dan energik, namun merasa gagal total di bilik tidur. "Mengapa aku tak bisa lagi? Aku ingin bersemangat lagi," ratap Praba. Setiap ia mencoba, ingatannya kembali ke masa di mana ia harus memaksakan diri demi sebuah pengabdian seorang istri, namun hanya berakhir dengan rasa sakit dan air mata, sebab lubang kering itu tak bisa mencapai kulminasi lagi, diiringi “serangan” Yudhis yang begitu cepat, tak lebih dari sebatang lilin yang menyala hanya tiga menit.
Ah, Yudhis… Jika saja Yudhis hanyalah suami yang impoten. Tapi tidak. Dorongan naluriahnya meluap-luap, seperti luapan sungai kecil yang bertemu dengan muara yang sempit. Energi itu, kata Praba, “seharusnya disalurkan untuk mencari nafkah, bukan untuk menuntut . ”Praba sering meraba ke langit malam, membandingkan Yudhis dengan mendiang suaminya. Laksana langit dan bumi, kata orang Betawi. Mendiang adalah matahari yang penuh kasih, Yudhis hanya kunang-kunang redup. Perbedaan karakter, kecerdasan, dan terutama tanggung jawab adalah jurang yang tak terhindarkan.
Kini kehidupan mereka digantungkan pada seutas tali bernama Mukhlis, anak sulung Praba. Sisa gaji Praba sebagai karyawati, si tulang punggung yang gajinya tak seberapa, hanya cukup untuk membeli beras, pulsa listrik, dan minyak goreng. Suaminya yang pernah menjadi guru honorer kini diam, tanpa aset, dan tanpa daya. Berharap Yudhis bangkit mencari kerja, rasanya seperti berharap bintang jatuh di halaman rumah. Beban finansial yang ditanggung anak-anak, rasa ilfeel yang berakar dari kabar buruk mantan istrinya, hingga kisah “susuk” yang terbaca di foto Rontgen, semua adalah pupuk bagi kebencian Praba.
Maka semalam, ketika Yudhis kembali melanggar batas bantal dan menyentuh tubuhnya yang terlelap, Praba spontan marah. Respon balasan Yudhis adalah bantal leher mendarat di tubuh Praba. Guncangan fisiknya memang tak seberapa, namun guncangan psikisnya meluluhlantakkan sisa-sisa harapan Praba.
Dalam keputusasaan, ia berpikir, "Haruskah aku minta dimadu saja? Biar ia salurkan nafsunya ke yang lain, asalkan aku selamat." Atau ia sempat berharap seperti orang bodoh bahwa vasektomi akan meredakan gejolak nafsu suaminya. Namun, dia tahu. Masalahnya bukan di sana. Masalahnya ada pada rasa aman, pada martabatnya yang terinjak, dan pada pertanyaan yang terus berputar, "Apakah aku masih kuat bertahan, hanya demi sebuah tameng dari gunjingan orang?"
Praba menoleh ke arah benteng guling itu. Di balik keheningan malam, ia menyadari, peperangan terberat bukan melawan nafsu Yudhis, melainkan melawan ketakutan dan rasa bersalahnya sendiri. Ia adalah seorang pejuang yang kelelahan dan ia kini sedang down, mencoba menemukan sedikit cahaya di ujung terowongan sunyi.
Setelah malam pekat yang ditandai benturan bantal, sebuah keputusan sunyi lahir di jiwa Praba. Dia tidak memilih peperangan besar yang berdarah-darah. Ia memilih keikhlasan, bukan sebagai bentuk pasrah, melainkan sebagai siasat untuk mengukur batas akhir pertahanan musuh. Dia memberi tenggat waktu, seperti seorang manajer memberi deadline kepada karyawannya yang paling lamban. Desember, katanya, adalah gerbang. Dan di akhir November, sebuah keajaiban kecil merangkak perlahan. Yudhis, si suami yang energinya terbuang di antara tuntutan dan frustrasi, kini mulai menyalurkan gairahnya ke seonggok pasir, semen, dan sederet kaleng cat warna-warni.
Lapak kecil pot bunga di depan rumah, sebuah monumen atas kegigihan seorang istri. Bahkan pesanan untuk tulisan papan nama lembaga mulai berdatangan. Suara palu, cetok, dan adukan semen kini menggantikan desahan sunyi di balik pintu kamar. Yudhis menerima baik saran Praba untuk menjajakan pot bunganya di etalase digital Shopee. Sebuah lompatan mental yang jauh dari tuntutan ranjang ke tuntutan algoritma.
***
“Ya, kan Abah udah tahu, gak usah dibahas lagi,” kata Yudhis ketika Praba, dengan keberanian dan kelembutan yang baru dia temukan, berbisik minta maaf atas frigiditasnya yang permanen. Pengakuan verbal itu terasa seperti sepotong roti kering di tengah badai, tak mengenyangkan tapi cukup untuk menahan lapar.
Dan malam subuh tadi menjadi panggung antiklimaks mereka. Ketika fajar masih malu-malu menyapa, Yudhis seperti kebiasaannya yang tak sabar, kembali menarik batas guling itu. Sebuah tindakan halus, tanpa kata, hanya upaya menegosiasi kedaulatan Praba. Namun Praba, jiwa yang telah berjanji pada dirinya sendiri untuk konsisten, tidak meledak. Ia tidak berteriak. Ia hanya bergumam pelan, setenang embun yang jatuh di daun talas, "Ehhh… mana gulingku… Jangan diambil." Dia menyusun kembali guling-guling itu, menjadikannya pagar yang tak terhindarkan. Lalu, Praba turun ranjang. Ia biarkan Yudhis dengan nafsunya yang tak terpuaskan. Ia memilih wudhu, shalat Subuh, dan melantunan tadarus Qur’an. Di momen hening itu, ia melihat suaminya. Sedih, tapi bersyukur. Yudhis yang “gairahnya” selalu mendidih, tidak memilih amarah. Dia tidak memilih konfrontasi. Ia memilih ikhlas menerima kondisi istrinya dengan fokus bekerja di lapak barunya.
Setelah shalat, Yudhis beranjak, membuka gerbang, dan melanjutkan proyek gazebo di depan rumah sebuah display bagi pot-pot semen yang ia buat. Energi yang seharusnya ia salurkan untuk “menyakiti” batin Praba, kini dialirkan untuk menanam nilai, membangun aset, dan menumbuhkan harapan ekonomi. Inilah ujung lorong hati Praba yang berkabut. Tak ada lagi pelukan hangat yang tiba-tiba, tak ada gairah yang kembali menyala. Kasih sayang tidak tumbuh dari nyala api romansa yang dramatis, melainkan dari ketenangan dan rasa aman yang perlahan-lahan kembali.
Praba sadar, mungkin kadar cintanya pada Yudhis tidak akan pernah setinggi kasihnya pada mendiang suami. Mungkin dia hanya akan mampu mencintai Yudhis dengan kadar yang sangat rendah, mencintai Yudhis sebagai seorang manusia yang berusaha bertanggung jawab, sebagai rekan hidup yang menghargai batas. Biarlah kasih sayang itu tumbuh dari melihat punggungnya yang sedang mengaduk semen dan melukiskan imaginasi dalam gradasi warna ke permukaan karyanya, pikir Praba. Biarlah ia tumbuh dari melihat kesabaran dan produktivitasnya.
Meskipun dia masih harus tidur di samping tembok guling, dia kini merasa sedikit lebih aman. Perasaan jijik dan takut itu belum sepenuhnya hilang, tapi telah berganti wujud menjadi keikhlasan yang waspada sebuah langkah kecil yang bernilai besar. Bagi Praba, perdamaian di kamar tidur dimulai dari keringat yang tumpah di lapak gazebo. Dan itu adalah kemenangan yang lebih abadi daripada sekadar kebahagiaan sesaat. Secangkir kopi susu hangat perlahan dibawa Praba ke gazebo Yudhis. “Terima kasih, Sayang”, satu ucapan tulus Yudhis yang masih terasa hambar di hati Praba.
***