WARISAN DOA DI RUMAH KECIL
Karya Evi Iwak
Dahulu, sempat terlintas di benakku bahwa merawat ibu dengan kondisi Alzheimer yang kian berat akan dapat menghabiskan seluruh tabunganku. Sebagai PNS dengan jumlah gaji yang terbatas dan beban tugas akhir S2, secara logika aku seharusnya terhimpit. Alzheimer membutuhkan pemeriksaan rutin ke dokter syaraf atau psikiater geriatric dengan beberapa obat-obatan yang tidak tercover lewat BPJS. Namun sejak pertamakali ibu menginjakkan kakinya di rumah kecilku di salah satu perumahan di Bandar Lampung, aku sudah mengucap janji tidak sepersenpun uang pensiun kepunyaan ibu akan kugunakan untuk biaya hidupnya. Uang itu sepenuhnya kusisihkan untuk bersedekah setiap bulannya atas nama ibu sebagai bekal untuk mendahuluinya di langit. Kesabaran merawat ibu ditengah keterbatasan finasial adalah bentuk baktiku terhadap orangtua yang telah merawat dan mengasuhku saat kecil.
Delapan bulan itu adalah masa dimana waktu seakan berhenti sekaligus berlari. Setiap pukul 03.00 dinihari aku sudah berkutat dengan menyiapkan tim ikan kerapu kegemaran ibu. Menyuapinya adalah perjuangan yang penuh dengan air mata karena memakan waktu berjam-jam yang dilanjutkan dengan lima butir obat yang harus diminum ibu setiap pagi. Agar lebih memudahkan minum obat tersebut setiap malam aku menggerusnya halus terlebih dahulu karena tenggorokan ibu yang kian menyempit. Penderita Alzheimer sering merasa bingung sehingga aku harus membuat jadwal harian yang tetap (jam makan, jam mandi, jam berjemur). Aku beberapakali memandikan dan menyisir rambut ibu sambil terisak karena harus memburu waktu keberangkatan kerja pukul 05.30 pagi. Bersyukurnya semua teman-teman satu mobil selalu memaklumi keterlambatanku. Jarak tempuh perjalananku dari rumah ke tempat kerja memerlukan waktu 2 jam perjalanan.
Di sela-sela malam saat ibu gelisah tidak bisa tidur, aku duduk bersimpuh di samping tempat tidurnya memangku laptop sambil menyusun bab demi bab tesisku. Terkadang ada hari dimana rumah berantakan, tesis tidak bertambah satu kata pun dan ibu sedang susah untuk ditenangkan sehingga aku harus memaafkan diri sendiri pada hari-hari tersebut. Aku sempat mengajukan cuti kuliah, namun pembimbingku menolak beliau memintaku bertahan sedikit lagi karena hanya tinggal selangkah lagi menuju kelulusan. Maka, diatas sajadah dan disamping daster ibu yang bau minyak kayu putih, tesis itu kutuntaskan dengan sisa tenaga yang ada. Setiap langkahku menuju tempat bekerja, setiap baris kalimat di tesis dan setiap suapan nasi tim ikan kerapu untuk ibu sebagai bentuk ibadah yang saling berkaitan.
Allah memang Maha Menepati Janji. Di saat tabunganku terkuras untuk dokter spesialis terbaik dan perawat medis yang mengecek kondisi ibu di rumah setiap 2 hari sekali, bantuan-bantuan ajaib turun melalui orang lain. Budhe Tukini pembantuku yang tulus yang setiap hari di saat aku bekerja menggantikanku merawat ibu, Pak Ojol yang setia mengantarkan ibu setiap kami harus control ke tempat praktek dokter, hingga ibu muda yang tidak kukenal di supermarket yang memberikan popok secara cuma-cuma untuk ibu.
Saat ibu berpulang di usia delapan puluh tahun, duka itu sempat terasa berat karena pandemic COVID-19 menghalangiku membawa jenazah ibu pulang ke Klaten untuk bersanding dengan almarhum bapak. Namun, aku segera tersadar bahwa bakti bukan soal koordinat tanah, melainkan soal ketulusan pelayanan. Keajaiban tidak terhenti setelah ibu tiada. Tak lama setelah masa duka, pintu keberkahan terbuka lebar. Aku bisa merenovasi rumah kecilku menjadi lebih layak. Dan puncaknya, aku berhasil berdiri di panggung wisuda, mengenakan toga Magisterku. Meski kursi di sampingku kosong tanpa kehadiran ibu, aku tahu gelar ini adalah milik ibu. Tesisku tidak hanya berisi dengan teori akademik, tapi ditulis dengan tinta bakti dan doa-doa ibu yang tembus ke langit. Ada keberkahan di balik keterbatasan finansial yang kumiliki. Dalam banyak kepercayaan, rejeki tidak hanya berupa uang tunai yang ada di dompet, tetapi juga berupa kesehatan untuk bekerja, kemudahan dalam memahami materi sewaktu melakukan bimbingan tesis serta perlindungan dari musibah yang lebih besar.
Kesempatan merawat ibu di delapan bulan sisa hidupnya adalah anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang. Delapan bulan tempat aku menabung kenangan tanpa penyesalan karena telah memberikan yang terbaik di saat-saat paling sulit dalam hidupnya. Aku percaya tamgan yang memuliakan orangtua akan selalu dijaga oleh Sang Pemberi Rejeki agar tidak pernah kekurangan. Kini aku mengerti sepenuhya bahwa merawat orangtua tidak akan pernah membuat kita miskin. Sebaliknya akan menjadi kunci yang membuka segala gembok kesulitan. Ibu memang tidak sempat melihat rumahku yang baru atau melihatku diwisuda, namun aku yakin ibu sedang tersenyum disana melihat rumah yang jauh lebih indah dan gelar yang jauh lebih mulia sedang dipersiapkan untukku di keabadian.