PERPISAHAN YANG TERTINGGAL DI LANGIT
Karya : Risnawati, M.Pd.
Gina dan Alea adalah guru PNS di sebuah SMK Negeri di Lampung Selatan yang sudah 20 tahun lebih mengabdi bersama di sekolah tersebut. Aku adalah Gina seorang guru eksak yang biasa saja, tidak ada kelebihan apapun selain kewajiban mengajar di kelas. Berkebalikan dengan Alea seorang guru Bahasa Inggris yang hebat dan sangat kompeten.
Dari kebersamaan Gina dan Alea di kantor yang penuh dinamika, persahabatan semakin erat saat menjalani perjalanan dari rumah ke kantor yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam bersama. Perjalanan naik travel selama 20 tahun lebih tersebut menghadirkan momen-momen berharga yang tak terlupakan. Terkadang pada akhir pekan tertentu menyempatkan diri untuk keluar bersama hanya untuk mengunjungi tempat wisata atau café baru sekedar refreshing dan kulineran.
Bandara Radin Intan pagi itu dipenuhi cahaya pucat yang menembus dinding kaca. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah beragam-antusias, lelah, bahagia, atau tergesa-gesa. Namun di sudut ruang tunggu keberangkatan, dua sosok berdiri dalam diam yang panjang, seolah dunia di sekitar mereka berhenti bergerak.
Minggu, 21 desember 2025 adalah hari berat buat Gina. Hari ini teman terbaiknya akan pindah tugas. Alea adalah Seorang Guru Pegawai Negeri Sipil terbaik. Dia adalah pengajar yang diakui dan diapresiasi secara luas oleh rekan kerja, siswa, orang tua dan masyarakat karena dedikasinya yang tinggi. Bagi Gina, Alea adalah role model yang hebat. Dalam dunia pendidikan, khususnya guru, Alea menguasai semua kompetensi guru, baik pedagogik, sosial dan profesional. Alea juga memiliki kreativitas yang mumpuni, inovatif, aktif dalam segala bentuk kegiatan komunitas guru maupun pengembangan kompetensi siswa, berintegritas tinggi, loyal pada pimpinan, dan elegan penampilannya.
Gina menatap sahabatnya, Alea telah banyak membimbingnya selama 20 tahun kebersamaan. Waktu yang cukup lama untuk menjadikan seseorang lebih dari sekedar sahabat atau teman. Alea adalah keluarga tepatnya seperti seorang Kakak yang dipilih oleh keadaan dan dipertahankan oleh suatu kesetiaan. Hari ini Gina harus melepasnya pergi untuk pindah tugas ke daerah lain mengikuti suaminya. Sepucuk surat tugas baru memindahkan Alea ke daerah lain, jauh melampui jarak yang biasa mereka tempuh bersama.
“ Tidak akan ada lagi seseorang yang baik hati… seperti Dia” gumam Gina pada dirinya sendiri. Bagi Gina, Alea adalah sosok sempurna. Tempat mengadu ketika ada kesulitan pemahaman dalam pekerjaan, meminta ide baru atau solusi dalam permasalahan atau sekedar sharing tentang teman kerja yang terkadang aneh-aneh saja kelakuannya. Hanya Dia yang selalu bisa diandalkan dalam mengatasi segala problem kerja dan hubungan social. Dia selalu menempatkan data dan realitas sebagai dasar pijakan dalam analisis logika saat sedang mencari solusi terbaik bagi semua. Dia selalu memberi petuah, nasihat yang baik dan bijaksana pada semua rekan kerjanya.. Yah kupikir tak berlebihan jika kukatakan dia serbabisa mengatasi semuanya. Membayangkan hal ini hati Gina terasa makin rapuh dan pikirannya galau. Sungguh dia merasakan kehilangan yang dalam.
Alea memegang tiket penerbangan dengan tangan sedikit gemetar. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Gina mengenal ekspresi itu dengan baik- ekspresi yang selalu muncul ketika Alea berpura-pura baik.
“ Siapa sangka,” ujar Alea pelan, “dua puluh tahun bisa berakhir di ruang tunggu seperti ini.”
Gina tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak oleh “kenangan yang datang beruntun: hari-hari sekolah, mimpi masa depan yang mereka rajut tanpa takut gagal, dan malam-malam sunyi yang dilalui dengan saling menguatkan. Semua terasa begitu dekat, seolah baru kemarin terjadi.
Panggilan keberangkatan terdengar melalui pengeras suara. Nama Alea disebutkan dengan jelas, tanpa peduli bahwa dibalik nama itu ada dua hati yang sedang berusaha menerima perpisahan.
Gina menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai jatuh. Ia tahu, jika Ia berbicara sekarang, suaranya akan pecah. Maka Ia memilih diam, diam yang menyimpan seluruh rasa kehilangan.
Alea melangkah mendekat dan memeluk Gina. Pelukan itu sederhana, tetapi penuh makna. Ada rasa terimakasih, ada kesedihan, dan ada janji yang tak terucap. Untuk sesaat, mereka berdua membiarkan perasaan jujur mengalir tanpa harus disembunyikan.
“Aku pergi,” kata Alea lirih.
“Pergilah,” jawab Gina akhirnya, “tapi jangan pernah pergi dari ingatan.”
Alea tersenyum, lalu melangkah menuju pintu keberangkatan. Beberapa kali Ia menoleh, memastikan sahabatnya masih berdiri di sana. Hingga akhirnya, pintu itu tertutup, dan sosoknya menghilang bersama suara langkah yang menjauh.
Gina tetap berdiri lama setelah itu. Ia menatap landasan pacu melalui kaca besar, melihat pesawat Garuda Indonesia yang membawa sahabatnya lepas landas, menembus langit yang kelabu. Ia sadar, hidup tidak selalu memberi pilihan untuk tetap bersama. Tetapi selalu memberi ruang untuk mengenang.
Perpisahan itu tidak menghapus persahabatan mereka. Ia hanya mengajarkan bahwa ada hubungan yang tidak memerlukan kehadiran setiap hari untuk tetap hidup. Cukup dengan kenangan, doa, dan keyakinan bahwa suatu hari, langit yang sama akan mempertemukan mereka kembali. “Sehat dan Bahagia selalu Sahabatku…”, Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.
BIONARASI
|
|
RISNAWATI, S. Pd., M. Pd. Lahir di Lampung Selatan Provinsi Lampung. Gelar S1 dari Universitas Yogyakarta Program Studi Pendidikan Matematika lulus tahun 2003 dan Gelar S2 dari Universitas Lampung, Magister Teknologi Pendidikan lulus tahun 2008. Pengalaman mengajar SMK Negeri 2 Kalianda ( 2004 – sekarang), Tutor Universitas Terbuka ( 2006 – sekarang), dan Dosen STKIP PGRI Bandar Lampung ( 2006 – 2022). |
|
Cerpen yang ditulis adalah sekelumit kisah nyata, kenangan dan hadiah perpisahan untuk Sahabat dan Kakak terbaiknya Hj. Nina Fatriana, M. Pd., yang harus pindah ke Lombok untuk mengikuti suaminya yang berkarir di sana. (Sepanjang menulis air mata tidak berhenti menetes, ditemani sekotak tisu, segelas kopi, dan alunan lembut kumpulan lagu-lagu sedih yang dilantunkan oleh Lesti Kejora, Rossa, dan Siti Nurhaliza). |
|