PANGGILAN TERAKHIR IBU
Karya Papi Huntara
Waktu itu datang tanpa pernah memberiku kesempatan bersiap. Ia tidak mengetuk, tidak memberi tanda, hanya mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupku Ibu.
Hari Ibu selalu membuat ingatanku berjalan mundur. Setiap tahunnya, aku kembali ke satu hari yang tidak pernah benar-benar selesai dalam pikiranku 10 November 2006. Hari ketika aku belajar bahwa cinta paling tulus bisa terputus oleh jarak, dan perpisahan paling menyakitkan bisa datang tanpa peringatan.
Saat itu aku magang di sebuah kantor di Gedung World Trade Center Jakarta. Hari itu berjalan seperti hari-hari biasa. Tidak ada rasa gelisah, tidak ada firasat buruk. Dunia terasa normal, terlalu normal untuk sebuah hari perpisahan.
Bahkan, dua jam sebelum Ibu meninggal, telepon genggamku berdering. Nama Ibu muncul di layar. Aku menjawabnya sambil tersenyum kecil, tidak tahu bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir kami.
Suara Ibu terdengar seperti biasa. Lembut. Tenang. Tidak ada keluhan, tidak ada nada pamit. Ia bertanya kabarku, apakah aku baik-baik saja, apakah aku sudah makan. Aku menjawab sekenanya, sedikit terburu-buru, karena pikiranku masih tertambat pada pekerjaan. Ibu tertawa kecil. Tidak ada satu pun kata yang menandakan ia akan pergi.
Tidak ada firasat. Tidak ada isyarat.
Telepon itu berakhir seperti percakapan-percakapan sebelumnya biasa saja. Terlalu biasa untuk sebuah akhir.
Aku kembali bekerja, tanpa tahu bahwa saat itu Papa masih berada jauh di Amsterdam, dan bahwa keluargaku sedang berada di ambang kehilangan yang sama sekali tidak kami duga.
Menjelang ashar, suasana berubah. Teleponku kembali berdering. Kali ini Assisten Rumah Tanggaku menelepon. Suaranya terdengar berat dan singkat. Ia hanya berkata, “Mas Kamu tolong pulang sekarang. Penting.” Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada alasan. Telepon ditutup sebelum aku sempat bertanya apa pun. Dadaku mulai terasa sesak. Aku mencoba menelepon kembali, tidak diangkat. Aku menghubungi tetangga di rumah, berharap mendapatkan sedikit penjelasan. Namun jawabannya sama singkat dan menghindar. “Pulang saja dulu,” kata mereka. Tidak satu pun memberi informasi.
Sore itu, aku langsung bergegas pulang. Jakarta sedang sangat macet. Jalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap lampu merah seperti menguji kesabaranku. Aku duduk di kendaraan dengan pikiran yang terus menolak kemungkinan terburuk. Aku berulang kali berkata pada diriku sendiri bahwa ini pasti hanya mimpi.
Klakson bersahut-sahutan, bercampur suara mesin yang meraung lelah. Deretan motor menyelip tanpa arah, sementara mobil-mobil saling berebut celah seolah waktu adalah musuh bersama. Udara terasa pengap, bukan hanya karena debu dan asap, tapi juga karena dadaku yang semakin sempit oleh rasa cemas. Jarum jam di ponselku bergerak terlalu cepat, berlawanan dengan laju kendaraan yang nyaris tak bergerak sama sekali.
Mataku terus menatap jalan, namun pikiranku melayang ke satu hal yang sama, berulang-ulang. Setiap pesan yang belum berbalas terasa seperti ketukan kecil di dada, semakin lama semakin nyaring. Aku mencoba menarik napas panjang, meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kekhawatiran ini berlebihan. Namun, kegelisahan itu tetap tinggal, duduk diam di sudut hati, menolak pergi.
Saat kendaraan akhirnya kembali merayap, aku justru merasa semakin gelisah. Ingin rasanya berlari, meninggalkan macet, meninggalkan lampu merah, meninggalkan jarak yang memisahkanku dari rumah. Jakarta sore itu bukan sekadar kota yang padat, melainkan lorong panjang yang memaksaku berhadapan dengan pikiranku sendiri penuh prasangka, penuh takut, dan penuh harap agar semua ini benar-benar hanya sebuah kesalahpahaman.
Namun ketika aku sampai di rumah, semua penyangkalan runtuh.
Rumahku sudah penuh dengan orang. Wajah-wajah yang tidak asing, tatapan yang penuh duka, suara tangis yang tertahan. Aku melangkah masuk dengan langkah gemetar, berharap semuanya tidak seperti yang kubayangkan.
Tetapi kenyataan berdiri di depanku tanpa belas kasihan.
Ibuku telah tiada. Untuk selamanya.
Aku berdiri terpaku. Dunia seakan berhenti berputar. Wajah Ibu terlihat damai, seolah ia hanya tertidur. Saat itu aku baru menyadari telepon siang tadi bukan sekadar sapaan. Itu adalah panggilan terakhirnya. Perpisahan yang tidak pernah ia ucapkan, agar aku tidak merasa takut.
Namun ketika aku sampai di rumah, semua penyangkalan runtuh.
Rumah itu sudah penuh sesak oleh orang-orang. Sandal dan sepatu berjejer tak beraturan di teras, suara doa bercampur isak tangis memenuhi udara. Wajah-wajah yang kukenal menyambutku dengan tatapan Iba. Tatapan yang sejak detik pertama sudah menjawab semua pertanyaanku. Kakiku terasa lemas, langkahku goyah, seolah lantai tiba-tiba kehilangan daya topangnya.
Aku melangkah masuk, menembus kerumunan pelayat yang semakin banyak. Beberapa orang menepuk pundakku pelan, ada yang memanggil namaku dengan suara tertahan. Aku tak menjawab. Pandanganku lurus ke satu arah ke tempat tubuh Ibuku terbujur kaku, terbaring diam dalam balutan kain jarik lurik.
Saat itu, waktu benar-benar berhenti.
Aku mendekat perlahan, lalu runtuh di sisinya. Tanganku gemetar saat menyentuh wajahnya. Dingin. Terlalu dingin untuk seorang ibu yang biasanya hangat memelukku. Aku memeluk tubuhnya erat-erat, seolah dengan pelukan itu aku bisa mengembalikannya, seolah tangisku cukup kuat untuk membangunkannya dari tidur panjang ini.
“Ibu… bangun, Bu…”
Suaraku pecah, hilang di antara tangis yang tak lagi bisa kutahan. Dadaku sesak. Nafasku terputus-putus. Air mata jatuh tanpa henti, membasahi kain yang menutupi tubuhnya. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat pulang. Dunia terasa terlalu sunyi tanpa suaranya, terlalu kosong tanpa kehadirannya.
Aku berteriak, “Papa papa..ibu pa, ibu meninggal aku tak sanggup lagi menjalani hidup ini.”
Beberapa saudara mendekat, memegang bahuku, mencoba menarikku perlahan.
“Yang kuat ya…”
“Sudah, Nak…”
“Relakan Ibu…”
Tangan-tangan itu berusaha menenangkanku, namun hatiku menolak mendengar. Bagaimana caranya merelakan seseorang yang menjadi awal dari segalanya? Seseorang yang doanya selalu mendahului langkahku, yang suaranya selalu menjadi penenang dalam lelah.
Di tengah ramainya pelayat, di antara doa-doa yang terus dipanjatkan, aku merasa sendirian. Kehilangan ini terlalu besar untuk dibagi, terlalu dalam untuk dijelaskan. Saat itu aku benar-benar mengerti: rumah ini tidak lagi sama. Dan aku… tidak akan pernah menjadi diriku yang dulu.
Ibuku telah pergi.
Dan bersamanya, sepotong jiwaku ikut terkubur dalam diam.
Ibu dimakamkan tanpa kehadiran Papa.
Saat tanah menutup liang lahat itu, aku berdiri dengan hati yang sudah lebih dulu hancur. Papa baru tiba di Jakarta dua puluh empat jam kemudian, ketika semuanya telah selesai. Ketika doa-doa telah dipanjatkan, dan Ibu telah benar-benar kembali kepada Pangkuan Allah SWT.
Saat Papa sampai, aku melihat sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri. Ia tidak bisa menerima kenyataan. Tatapannya kosong. Suaranya patah. Ia bertanya berulang kali seolah berharap ada jawaban lain, seolah berharap semuanya hanya mimpi.
Dalam perjalanan panjang dari Amsterdam menuju Jakarta, Papa membawa harapan yang tak pernah sempat disiapkan untuk patah. Di kursi pesawat yang sempit, di antara dengung mesin dan lampu kabin yang redup, ia menggenggam ponselnya erat-erat, menunggu kabar yang tak kunjung berubah. Ia membayangkan Ibu masih terbaring lemah, menunggu uluran tangannya. Ia menghitung jam, menit, bahkan detik, seolah dengan itu jarak bisa dipendekkan.
Setiap turbulensi membuatnya terjaga. Setiap pengumuman pramugari terdengar seperti jeda yang kejam. Papa menutup mata, memanggil nama Ibu dalam hati, berjanji akan segera sampai. Ia tidak tahu atau mungkin menolak tahu bahwa waktu telah melangkah lebih cepat darinya.
Ketika akhirnya kakinya menginjak tanah Jakarta, kota ini menyambutnya dengan panas dan sunyi yang asing. Tidak ada lagi yang bisa ia kejar. Tidak ada lagi tangan yang bisa ia genggam. Hanya cerita yang tertinggal, dan rumah yang telah berubah.
Papa berdiri di ambang pintu, memandang ruangan yang masih menyimpan jejak Ibu. Ia bertanya lagi, dengan suara yang hampir tak terdengar, “Ibumu di mana?” Pertanyaan itu mengoyak kami semua. Tidak ada jawaban yang sanggup meredakan, karena kenyataannya terlalu final.
Di hadapanku, Papa bukan lagi sosok yang kukenal. Ia tampak lebih tua dalam satu hari yang terlambat itu. Bahunya turun, napasnya berat. Ia menatap foto Ibu lama sekali, seolah menunggu foto itu berbicara, membantah semua yang telah terjadi.
Dan aku mengerti, pada saat yang sama kami berduka dengan cara yang berbeda. Aku kehilangan Ibu. Papa kehilangan kesempatan terakhir untuk berpamitan, untuk memegang tangan Ibu sekali lagi, untuk mengatakan hal-hal yang seharusnya tak pernah ditunda.
Hatiku remuk melihatnya.
Kami berdua kehilangan orang yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Aku kehilangan Ibu, dan Papa kehilangan separuh hidupnya. Tidak ada kata yang bisa menghibur kami. Tidak ada pelukan yang cukup kuat untuk menahan runtuhnya dunia kecil kami.
Hari-hari setelahnya berjalan seperti mimpi yang tidak pernah benar-benar nyata. Aku hidup, tetapi ada bagian dari diriku yang tertinggal di hari itu. Setiap Hari Ibu, kenangan itu kembali utuh, jujur, dan menyakitkan.
Kini aku mengerti, cinta seorang ibu tidak berhenti di kematian. Ia tetap hidup dalam doa, dalam ingatan, dalam cara aku menjalani hidup. Meski waktu telah memintaku berpisah darinya, cintanya tidak pernah benar-benar pergi.
Selamat Hari Ibu.
Panggilanmu adalah kenangan terakhirku.
Dan cintamu adalah kekuatan seumur hidupku.
Seru dan terharu