Rumah Tanpa Suara
Rumah itu masih berdiri utuh, tapi rasanya kosong.
Bukan karena dindingnya runtuh atau atapnya bocor, melainkan karena suara yang dulu mengisinya kini menghilang. Tak ada tawa anak-anak berlarian, tak ada panggilan lembut seorang ibu dari dapur. Yang tersisa hanya aku, dan gema langkah kakiku sendiri.
Sejak kepergian istriku, hidup berjalan seperti kabut. Hari-hari kulalui dengan tubuh yang hadir, tapi jiwa terasa melayang entah ke mana. Kini, anak-anak pun sementara tinggal bersama kakek dan neneknya. Katanya agar mereka lebih terurus, agar aku bisa “menenangkan diri”. Tapi siapa yang tahu, justru sejak itu hatiku makin sepi.
Setiap pagi aku bangun tanpa tujuan yang jelas. Aku duduk lama di tepi ranjang, menatap lantai, bertanya dalam hati: Untuk apa hari ini dijalani?
Kadang aku keluar rumah, berjalan tanpa arah, hanya agar tak merasa terkurung oleh kesunyian.
Yang paling menyakitkan adalah saat melihat orang lain. Teman-teman dengan keluarga lengkap, anak-anak digandeng, istri tersenyum di sampingnya. Aku ikut tersenyum, tapi di dada ada sesuatu yang mengeras. Bukan benci, hanya rasa “kenapa aku tidak seperti mereka?”
Malam adalah waktu terberat.
Aku duduk di ruang tamu, memandangi foto keluarga di dinding. Wajah istriku tersenyum di sana, seolah berkata semuanya baik-baik saja. Aku berbicara padanya dalam diam, mengadukan lelah, bingung, dan sedih yang tak tahu harus kutaruh di mana.
“Aku capek,” bisikku suatu malam.
Tak ada jawaban. Hanya sunyi.
Namun, di tengah kekosongan itu, ada satu hal kecil yang terus bertahan: ingatan tentang anak-anakku. Tentang tangan kecil yang dulu menggenggam jariku. Tentang suara mereka memanggilku “Ayah”. Ingatan itu menyakitkan, tapi sekaligus menghangatkan.
Suatu pagi, aku membuka ponsel dan melihat pesan dari anak sulungku. Singkat saja:
“Ayah sehat? Aku kangen.”
Mataku basah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa masih dibutuhkan.
Mungkin hidupku belum punya jawaban.
Mungkin sedih dan gelisah belum juga pergi.
Tapi hari itu aku belajar satu hal: meski rumah terasa kosong, aku belum selesai. Aku masih ayah. Aku masih manusia yang boleh lelah, tapi tidak boleh hilang.
Aku berdiri, membuka jendela, membiarkan cahaya pagi masuk.
Pelan-pelan, aku berkata pada diri sendiri:
Kesendirian ini bukan akhir. Ini hanya jeda.
Dan aku memilih bertahan, satu hari lagi.