Rumah Tanpa Suara (Seri 2: Langkah Kecil)
Pagi itu rumah masih sama.
Sunyi tidak pergi hanya karena aku membuka jendela kemarin.
Aku tetap membuat kopi untuk satu orang, tetap menyiapkan dua gelas tanpa sadar, lalu terdiam sejenak sebelum mengembalikan satu ke rak. Kebiasaan memang lebih keras kepala daripada kesedihan.
Aku mulai mengisi hari dengan hal-hal kecil. Bukan karena aku kuat, tapi karena diam terlalu menyakitkan. Aku menyapu lantai, menata kembali rak buku, memindahkan foto keluarga dari ruang tamu ke kamar tidur. Bukan untuk disembunyikan—hanya agar aku bisa memilih kapan harus menatapnya.
Siang hari, aku duduk lama di teras. Melihat orang lewat, mendengar motor melintas, mendengar dunia tetap berjalan meski hidupku sempat berhenti. Ada iri, masih ada. Tapi kini tidak lagi menyakitkan seperti dulu—lebih seperti perih yang mulai bisa kuterima.
Sore itu, ponselku bergetar lagi.
Video call.
Wajah anak-anakku muncul di layar. Rambut mereka sedikit lebih panjang dari terakhir kali kulihat. Mereka tertawa, berebut bicara, saling menyela seperti biasa.
“Ayah kok kurusan?” tanya yang kecil.
Aku tertawa kecil. Tertawa sungguhan. Suara yang sudah lama tak keluar dari dadaku.
“Ayah lagi belajar hidup,” jawabku.
Mereka tidak mengerti. Tidak perlu. Yang penting mereka tersenyum.
Malam datang, seperti biasa. Sunyi tetap duduk di sudut ruang tamu. Tapi kali ini aku tidak sendirian sepenuhnya. Ada sisa tawa anak-anak yang tertinggal di kepalaku, seperti lampu kecil yang belum padam.
Aku kembali duduk menatap foto istriku.
“Kita masih berantakan,” kataku pelan.
“Tapi aku sedang mencoba.”
Aku sadar satu hal malam itu: bertahan bukan soal tidak menangis, tapi soal tetap melangkah meski hati masih pincang.
Aku belum sembuh.
Aku belum kuat.
Tapi aku mulai berjalan.
Dan mungkin, itu sudah cukup—untuk hari ini.