KETIKA ALLAH MENGETUK DARI PINTU YANG TAK DISANGKA
Karya: Nina The’a
Ada masa ketika hidup tidak bertanya apakah kita siap.
Ia hanya datang.
Mengetuk pintu dengan keras, bahkan terkadang mendobraknya, lalu menyeret kita ke sebuah lorong yang sama sekali tidak pernah kita rencanakan.
Begitulah hidup Niarna.
Seorang guru di salah satu SMK Negeri di Lampung Selatan yang selama bertahun-tahun mengabdikan sebagian besar waktunya untuk sekolah, anak-anak didiknya, dan berbagai tanggung jawab yang datang silih berganti.
Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seseorang yang berdiri paling depan.
Baginya, menjadi guru sudah lebih dari cukup.
Mengajar. Membimbing. Mendengar keluh kesah siswa. Menyusun perangkat pembelajaran. Menemani mereka tumbuh dari remaja yang penuh keraguan menjadi manusia yang perlahan menemukan arah.
Namun hidup rupanya memiliki cara sendiri untuk memperluas halaman cerita seseorang.
Niarna dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.
Jabatan itu bukan sekadar tulisan dalam sebuah surat keputusan. Di baliknya ada rapat yang tak mengenal waktu, dokumen yang seolah tak pernah selesai, persoalan pembelajaran, administrasi guru, asesmen, jadwal, program sekolah, dan berbagai persoalan kecil yang jika dikumpulkan menjelma menjadi gunung yang harus didaki setiap hari.
Namun Niarna menjalaninya.
Ia percaya bahwa amanah tidak selalu datang bersama kenyamanan.
Kadang-kadang amanah datang justru untuk menguji seberapa luas dada kita menerima kehidupan.
Di tengah kesibukan itu, Niarna juga sedang menempuh pendidikan doktoral di sebuah universitas negeri di Lampung.
Disertasinya adalah sebuah rumah yang sedang dibangunnya perlahan.
Satu bab demi satu bab.
Satu halaman demi satu halaman.
Satu malam demi satu malam.
Ia tahu perjalanan itu tidak mudah.
Tetapi ia percaya, suatu hari nanti, rumah kecil bernama disertasi itu akan selesai dan menjadi tempat bernaung dari segala lelah yang selama ini ia kumpulkan.
Januari menjadi bulan yang begitu berarti.
Setelah sekian lama berjibaku dengan proposal penelitian, akhirnya Niarna sampai pada satu tahap penting: seminar proposal.
Hari itu ia melewatinya dengan dada berdebar.
Ada gugup. Ada lega. Ada bahagia.
Ada juga rasa lelah yang selama ini disimpan diam-diam di balik senyum.
Setelah seminar selesai, Niarna pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Malam mulai turun.
Usai menunaikan salat Magrib, ia duduk sejenak. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya dipenuhi rasa syukur.
Ia baru saja melewati satu pintu. Ia tidak tahu bahwa beberapa menit kemudian, pintu lain akan terbuka dengan cara yang jauh lebih mengejutkan.
Teleponnya berdering. Nama kepala sekolah muncul di layar. Niarna mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikumussalam, Bu Niarna.”
Suara di seberang terdengar berbeda.
Lebih berat.
Lebih pelan.
Seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkan sebelum akhirnya diucapkan.
“Bu, saya mau menyampaikan sesuatu.”
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Mulai besok, saya sudah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah di sini.”
Niarna terdiam.
Sejenak ia mengira pendengarannya keliru.
“Hah? Maksud Bapak bagaimana?”
“Saya sudah tidak menjabat lagi sebagai kepala sekolah.”
Niarna menarik napas.
“Lalu… siapa kepala sekolah kita, Pak?”
Ada jeda beberapa detik.
Kemudian suara itu terdengar.
“Ya, Bu Niarna.”
Dunia seperti berhenti berputar.
“Apa, Pak?”
“Bu Niarna yang menggantikan.”
Niarna terdiam lama.
Bahkan terlalu lama.
“Tidak mungkin, Pak.”
Suara di seberang terdengar tertawa kecil.
“Kenapa tidak mungkin, Bu?”
“Saya, Pak?”
“Iya.”
“Tapi… saya hanya waka kurikulum.”
“Justru itu.”
Niarna masih belum mampu menerima kalimat tersebut.
“Bu Niarna sudah mengikuti pelatihan kepala sekolah. Dari sekolah-sekolah lain, justru Bu Niarna yang saya lihat paling siap.”
Kalimat itu terasa seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan danau tenang.
Riaknya menjalar ke mana-mana.
Niarna menatap kosong ke hadapannya.
Air matanya mulai jatuh.
Satu.
Dua.
Lalu tak terbendung.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena tidak menghargai kepercayaan.
Bukan pula karena menolak amanah.
Tetapi karena ia tahu, jabatan itu bukan sekadar kursi dan tanda tangan.
Di baliknya ada keputusan.
Ada tanggung jawab.
Ada risiko.
Ada begitu banyak mata yang akan memandang.
Dan yang paling membuatnya takut adalah dirinya sendiri.
Apakah ia mampu?
Apakah ia cukup kuat?
Apakah ia bisa berdiri ketika badai datang?
Namun keputusan sudah ditetapkan.
Tidak ada ruang untuk menghindar.
Niarna hanya bisa menarik napas panjang dan berkata dalam hati,
“Jika ini jalan yang Engkau pilihkan untukku, Ya Allah, tolong kuatkan langkahku.”
Pagi datang terlalu cepat.
Niarna dilantik.
Pada hari yang sama berlangsung pula temu pamit dengan kepala sekolah lama.
Ia berdiri di antara banyak orang dengan hati yang masih belum sepenuhnya percaya bahwa namanya kini melekat pada sebuah amanah yang begitu besar. Hari itu, ia bukan lagi sekadar seorang guru. Untuk sementara waktu, ia harus belajar berdiri sebagai pemimpin.
Tiga bulan. Hanya tiga bulan. Namun tiga bulan itu terasa seperti tiga tahun.
Hari-harinya penuh. Telepon berdering. Surat harus ditandatangani. Rapat harus dihadiri.
Persoalan guru harus diselesaikan. Persoalan siswa harus dipikirkan. Orang tua datang dengan keluhan. Program sekolah harus berjalan. Administrasi harus diperiksa. Dan setiap keputusan terasa seperti berjalan di atas jembatan yang di bawahnya mengalir sungai deras.
Niarna tetap tersenyum.
Tetap menyapa.
Tetap berusaha menjadi dirinya sendiri.
Warga sekolah menerima kehadirannya dengan baik.
Tetapi dari luar sekolah, ada suara-suara lain yang tak selalu ramah.
Gempuran dari berbagai pihak, termasuk LSM, membuat pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Ia mulai belajar bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang keberanian mengambil keputusan.
Kadang-kadang menjadi pemimpin berarti belajar tidur dengan pikiran yang masih bekerja.
Belajar tersenyum ketika hati sedang berantakan.
Belajar terlihat tenang ketika badai sedang bertumbuh di dalam dada.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang perlahan-lahan ia tinggalkan.
Disertasinya.
Rumah kecil yang dulu dibangunnya dengan penuh cinta itu mulai berdebu.
Laptop masih ada.
Buku-buku masih tersusun.
Proposal seminar masih tersimpan.
Catatan revisi masih menunggu.
Tetapi Niarna tidak punya cukup ruang di kepalanya untuk menyentuh semuanya.
Pikirannya bercabang.
Tugas sekolah menarik satu sisi.
Persoalan kepemimpinan menarik sisi yang lain.
Disertasi berdiri di tengah-tengah, menunggu dengan sabar.
Menunggu.
Dan terus menunggu.
Tiga bulan berlalu.
Akhirnya kepala sekolah definitif datang. Niarna mengembuskan napas panjang.
Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Ia berterima kasih kepada kepala sekolah baru karena kedatangannya seperti seseorang yang mengambil sebagian beban dari pundak yang selama ini nyaris patah. Niarna kembali menjadi waka kurikulum. Jabatannya kembali pada tempat semula.
Namun ternyata sesuatu dalam dirinya telah berubah.
Tiga bulan menjadi PLT telah meninggalkan bekas. Ia lebih tahu bahwa hidup tidak selalu bisa dikendalikan. Ia lebih mengerti bahwa jabatan hanyalah persinggahan.
Dan ia semakin sadar bahwa manusia memiliki batas. Namun ada satu hal yang belum ia selesaikan. Disertasi. Ia masih punya hutang kepada dirinya sendiri.
Suatu pagi, Niarna sedang mengajar di Laboratorium Simdig.
Siswa-siswanya duduk di depan Papan Interaktif Digital bantuan Pemerintah Merah Putih.
Ruangan itu penuh cahaya dari layar.
Niarna sedang menjelaskan materi ketika terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Ia menoleh.
Bu Hani, salah satu anggota Tim Kurikulum, berdiri di ambang pintu.
“Bu Niarna.”
“Iya, Bu Hani?”
“Ada tamu di ruang kepala sekolah. Katanya dari kampus. Mau melakukan penelitian tentang perpustakaan dan kerja sama Dunia Usaha dan Dunia Industri.”
Niarna melihat jam.
“Sebentar ya, Bu. Tolong sampaikan kepada Pak Kepala Sekolah, lima belas menit lagi saya selesai mengajar.”
“Baik, Bu.”
Bu Hani pergi.
Niarna kembali kepada siswanya.
Ia tidak tahu bahwa lima belas menit kemudian, hidup akan kembali mengetuk pintunya.
Bukan dengan suara keras.
Bukan dengan kejutan yang menakutkan.
Melainkan dengan sebuah pertemuan yang kelak akan ia kenang sebagai salah satu cara Allah mengingatkannya.
Setelah selesai mengajar, Niarna bergegas menuju ruang kepala sekolah. Ketika pintu dibuka, ternyata seluruh wakil kepala sekolah sudah berada di sana. Ada tiga orang dosen yang duduk bersama kepala sekolah.
Kepala sekolah tersenyum.
“Nah, ini dia Bu Niarna.”
Niarna tersenyum dan memberi salam.
Kemudian kepala sekolah berkata,
“Prof, saya perkenalkan. Ini waka kurikulum saya. Kebetulan Bu Niarna ini juga mahasiswa doktoral di kampus Prof. Beliau mengambil Manajemen Pendidikan Islam.”
Niarna menoleh.
Wajah salah seorang profesor itu membuat jantungnya seperti lupa berdetak.
Ia mengenalnya.
Kampusnya.
Dunia akademiknya.
Ternyata tamu tersebut berasal dari kampus tempat ia menempuh pendidikan doktoral.
“Bu Niarna ambil jurusan apa?” tanya profesor itu.
“Manajemen Pendidikan Islam, Prof.”
“Oh… MPI.”
Profesor itu tersenyum.
“Saya memang tidak mengajar di jurusan Ibu, tetapi saya salah satu promotor.”
Niarna hanya mampu tersenyum.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Seolah seseorang baru saja membuka laci yang lama ia kunci.
Kepala sekolah kemudian bercanda,
“Prof, mohon dibantu ya, Bu Niarna ini diberi semangat supaya segera menyelesaikan disertasinya. Biar sebelum saya pensiun, saya sudah dapat undangan makan-makan syukuran gelar doktornya.”
Seketika ruangan dipenuhi tawa.
Niarna ikut tertawa.
Namun dalam hatinya ada sesuatu yang tersentuh.
Disertasi.
Kata itu kembali terdengar.
Kata yang beberapa bulan terakhir seperti sengaja ia sembunyikan di sudut pikirannya.
Profesor itu kemudian bertanya,
“NPM Bu Niarna berapa?”
Niarna terdiam.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Ia mencoba mengingat.
Tidak berhasil.
“Lupa, Prof.”
Semua orang tertawa.
Niarna buru-buru menambahkan,
“Yang saya ingat belakangnya saja, Prof. Enam belas.”
Tawa semakin pecah.
Profesor itu ikut tertawa.
“Bagaimana mau dibantu kalau NPM saja lupa?”
Niarna tersenyum malu.
“Iya, Prof. Maaf. Efek kelamaan tidak disentuh disertasinya.”
Kalimat itu sebenarnya hanya candaan.
Namun justru kalimat sederhana itulah yang menamparnya pelan-pelan.
Kelamaan tidak disentuh.
Benar.
Terlalu lama.
Pertemuan itu berubah menjadi percakapan yang panjang. Profesor Romlah memberikan nasihat. Memberikan semangat. Memberikan keyakinan bahwa Niarna masih bisa melanjutkan semuanya. Kemudian sebuah nama disebut. “Mbak Denta sudah mau sidang tertutup, lho.”
Niarna terdiam. Denta.
Teman seperjuangannya di kampus.
Teman yang dulu sama-sama duduk mendengarkan kuliah.
Sama-sama mengeluh tentang jurnal.
Sama-sama membicarakan proposal.
Sama-sama bermimpi suatu hari memakai toga doktor.
Tetapi waktu membawa mereka ke jalan masing-masing.
“Mbak Denta sudah sejauh itu?” tanya Niarna.
“Iya,” jawab Prof Romlah.
Kemudian profesor itu berkata,
“Ayo, Bu Niarna. Semangat.”
Beliau memberikan nomor teleponnya.
“Catat nomor Prof. Prof tunggu WhatsApp dari Bu Niarna.”
Niarna mengangguk.
“Prof juga tunggu ujian kualifikasinya.”
Kalimat berikutnya membuat dada Niarna bergetar.
“Prof bersedia menjadi penguji.”
Dua dosen lainnya, Doktor Khairul dan Doktor Eni, ikut memberikan semangat.
Tidak ada kata-kata yang terlalu rumit.
Tidak ada ceramah panjang.
Hanya beberapa kalimat sederhana.
Tetapi terkadang manusia memang tidak membutuhkan seribu nasihat.
Ia hanya membutuhkan satu kalimat yang tepat pada saat hatinya sedang membutuhkan cahaya.
Dan hari itu, Niarna merasa seperti seseorang baru saja menyalakan lampu di ruangan yang lama gelap.
Ia seperti ditampar.
Bukan oleh tangan.
Tetapi oleh kenyataan.
“Yuk, semangat.”
“Kita dulu wisuda bersama.”
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Dalam perjalanan pulang, Niarna tidak bisa berhenti berpikir. Mengapa hari ini?
Mengapa mereka datang ke sekolahnya?Mengapa harus bertemu dengannya?
Mengapa di saat disertasinya sedang terbengkalai? Bukankah bisa saja mereka datang pada hari lain? Bukankah bisa saja yang bertemu dengan mereka adalah wakil kepala sekolah yang lain?
Tetapi tidak. Hari itu Niarna bertemu mereka. Di ruang kepala sekolah.
Setelah selesai mengajar. Di saat pikirannya sedang jauh dari disertasi. Dan tiba-tiba ia teringat sebuah kalimat yang pernah disampaikan Prof Agus. Kalimat itu sederhana. Tetapi hari itu terasa sangat dalam. “Disertasi yang baik bukanlah disertasi yang bagus dan sempurna. Disertasi yang baik adalah disertasi yang selesai.”
Niarna terdiam.
Selama ini mungkin ia terlalu sibuk mengejar kesempurnaan.
Terlalu takut salah.
Terlalu banyak berpikir.
Terlalu lama menunggu waktu yang tepat.
Padahal waktu tidak pernah benar-benar menyediakan dirinya.
Waktu hanya berjalan.
Dan manusia harus memilih berjalan bersamanya atau tertinggal di belakang.
Sesampainya di rumah, Niarna mengambil telepon. Ia mencari satu nama.
Denta. Teman seperjuangannya. Nomor itu akhirnya ditemukan. Niarna menelepon.
“Assalamu’alaikum, Mba Denta.”
“Wa’alaikumussalam. Bu Niarna!”
Suara di seberang terdengar hangat.
Mereka berbincang tentang banyak hal.
Hingga akhirnya Niarna bertanya,
“Mba, setelah seminar proposal, proses apa lagi yang harus aku lalui?”
Denta terdiam sebentar.
Kemudian tertawa.
“Alhamdulillah… akhirnya kamu bangun juga.”
Niarna ikut tertawa.
“Aku kayak tidur panjang, ya, Mba?”
“Bukan kayak lagi tidur. Kamu memang tidur!”
Keduanya tertawa.
Namun di balik tawa itu ada rasa haru.
Denta senang.
Temannya yang sempat hilang dari dunia disertasi kini kembali.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena ditegur.
Tetapi karena sebuah pertemuan kecil yang terasa seperti pesan besar dari langit.
Malam itu Niarna membuka laptop. Debu kehidupan seolah menempel pada benda-benda yang lama ia tinggalkan. Folder disertasi masih ada. Proposal masih tersimpan. Ia menatap layar beberapa saat. Tangannya belum bergerak. Hatinya berdebar. Kemudian ia menarik napas.
“Bismillah.”
Satu kata. Sederhana.
Tetapi sering kali perjalanan besar memang dimulai dari satu kata sederhana.
Bismillah.
Ia kemudian menghubungi bagian administrasi kampus.
Ia meminta rekaman Zoom seminar proposalnya.
Meski sudah mencatat beberapa masukan, ia takut ada hal penting yang terlewat.
Ia ingin mendengar kembali. Mencatat kembali. Memulai kembali. Bukan dari nol. Tetapi dari tempat terakhir ia berhenti. Malam semakin larut. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Niarna tidak merasa lelah. Ia merasa hidup. Di hadapannya masih ada puluhan halaman.
Masih ada revisi.Masih ada penelitian.Masih ada ujian.Masih ada kualifikasi. Masih ada perjalanan panjang menuju gelar doktor.
Tetapi kini ia tidak lagi melihatnya sebagai gunung yang mustahil didaki.
Ia melihatnya sebagai jalan.
Dan jalan hanya perlu ditempuh.
Selangkah demi selangkah.
Niarna akhirnya memahami sesuatu.
Kadang-kadang Allah tidak mengirim jawaban dalam bentuk mukjizat besar.
Allah mengirim seseorang. Mengirim pertemuan. Mengirim percakapan singkat. Mengirim sebuah kalimat. Mengirim seseorang yang datang pada waktu yang tepat untuk mengingatkan kita kepada sesuatu yang hampir kita lupakan. Mungkin Prof Romlah dan timnya tidak pernah tahu betapa berarti pertemuan itu bagi Niarna. Mungkin bagi mereka, itu hanyalah kunjungan akademik biasa. Penelitian. Kerja sama. Silaturahmi.
Namun bagi Niarna, pertemuan itu adalah sebuah ketukan.
Ketukan lembut dari Allah.
Seolah-olah Tuhan sedang berkata,
“Aku tidak pernah melupakan jalan yang pernah kau minta kepada-Ku.”
Niarna menatap layar laptopnya.
Di sana, judul disertasinya masih terpampang.
Judul yang beberapa bulan terakhir hanya menjadi tulisan tanpa gerak.
Kini ia tersenyum.
Bukan karena semua sudah selesai.
Tetapi karena ia sudah mulai kembali.
Dan terkadang, kembali adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
Ia tidak tahu kapan tepatnya akan selesai.
Ia tidak tahu berapa kali nanti akan lelah.
Ia tidak tahu berapa banyak revisi yang akan menunggunya.
Namun satu hal ia tahu.
Ia tidak boleh berhenti hanya karena pernah tersesat dalam kesibukan.
Bukankah hidup memang demikian?
Kadang kita berjalan cepat.
Kadang kita tertatih.
Kadang kita berhenti.
Kadang kita bahkan lupa ke mana tujuan kita.
Tetapi selama masih ada kesempatan untuk kembali, tidak ada kata terlambat. Niarna membuka lembar pertama. Tangannya mulai mengetik.
Satu kalimat.
Lalu satu paragraf.
Kemudian satu halaman.
Di luar jendela, malam berjalan pelan.
Angin menyentuh dedaunan.
Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu.
Tetapi di sebuah kamar kecil, seorang perempuan sedang menyalakan kembali cahaya yang sempat redup dalam dirinya.
Cahaya bernama harapan.
“Semoga tahun ini bisa wisuda dan meraih gelar doktor.”
Pesan Prof Romlah masih tersimpan di teleponnya.
Niarna membacanya sekali lagi.
Kemudian ia tersenyum.
“Aamiin.”
Sebuah doa meluncur dari bibirnya.
Ia tahu, doa tanpa ikhtiar hanyalah harapan yang belum menemukan kaki.
Maka malam itu ia memilih berjalan.
Pelan.Tetapi pasti. Ia kembali menggarap disertasinya.
Bukan untuk mengejar siapa pun. Bukan pula untuk membuktikan kepada dunia bahwa dirinya mampu.
Ia hanya ingin menuntaskan sebuah janji kepada dirinya sendiri.
Bahwa perempuan yang dahulu berani memulai, harus cukup berani pula untuk menyelesaikan.
Karena ternyata, perjalanan menuju gelar doktor bukan hanya tentang menemukan jawaban dalam penelitian.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah perjalanan menemukan kembali diri sendiri.
Tentang bagaimana seseorang belajar bertahan ketika hidup memberikan amanah yang tidak pernah diminta.
Tentang bagaimana seseorang belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.
Tentang bagaimana seseorang belajar melepaskan kesempurnaan dan memilih penyelesaian.
Dan tentang bagaimana Allah selalu punya cara yang indah untuk memanggil hamba-Nya kembali kepada jalan yang sempat terlupakan.
Niarna menutup laptop sejenak.
Ia menengadah.
“Terima kasih, Ya Allah.”
Air matanya kembali jatuh.
Tetapi kali ini bukan air mata ketakutan.
Bukan air mata karena beban.
Melainkan air mata syukur.
Sebab ia akhirnya mengerti.
Tidak semua pintu yang tertutup adalah kehilangan.
Tidak semua jalan memutar adalah kesesatan.
Dan tidak semua keterlambatan berarti kegagalan.
Kadang-kadang, kita hanya sedang diarahkan untuk bertemu dengan seseorang yang akan mengingatkan kita pada tujuan yang pernah kita tinggalkan.
Dan mungkin…
kedatangan Prof Romlah dan kedua doktor itu ke sekolahnya bukan sekadar sebuah kunjungan.
Mungkin itu adalah cara Allah mengetuk pintunya.
Pelan. Diam-diam. Namun tepat pada waktunya. Niarna kembali menatap layar. Jarinya bergerak lagi.Satu kalimat. Satu paragraf. Satu halaman.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, disertasinya tidak lagi menjadi mimpi yang tertidur.
Ia telah bangun. Bersama pemiliknya. Bersama doa. Bersama ikhtiar.
Bersama keyakinan bahwa setiap langkah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri.
Niarna tersenyum.
“Bismillah… tahun ini, semoga kita bertemu di ruang wisuda.”
Ia tidak tahu apakah kalimat itu akan menjadi kenyataan.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia berani mempercayainya.
Sebab ia telah belajar satu hal:
Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita di tengah jalan.
Kadang Dia hanya membiarkan kita berhenti sejenak…
agar ketika Dia memanggil, kita belajar menghargai arti sebuah perjalanan. Dan malam itu,
Niarna memilih untuk kembali berjalan.