Lima Bintang di Samudra Biru
Karya Shella Agribisnis Perikanan Air Laut
Gerbang SMK Negeri 2 Kalianda, yang pagi itu tampak gagah diselimuti kabut tipis, adalah batas antara masa lalu dan masa depan. Aku berdiri di antara riuh rendah siswa baru, namun hatiku sepi. Kawan lama memilih jalan berbeda, tersebar di jurusan yang tak lagi sama. Aku merasa seperti kapal tunggal di pelabuhan yang asing, menunggu ombak yang entah kapan akan datang.
Masa Orientasi Siswa (MPLS) membawa langkahku ke lorong yang tak terduga: Jurusan Perikanan. Ruangan itu didominasi oleh suara berat dan bayangan tegap, seolah aku memasuki sebuah dermaga yang dihuni para pelaut. Di tengah samudra laki-laki itu, hanya ada satu mercusuar, satu titik tenang.
Dia duduk di sudut, auranya selembut air di kolam pagi.
Dengan langkah ragu, aku menghampirinya. “Permisi, apakah ini benar Jurusan Perikanan?” tanyaku, suaraku nyaris berbisik.
Dia mendongak, matanya jernih dan teduh. “Iya, benar,” jawabnya, senyum kecil terukir.
“Kau… jurusan apa?”
“Perikanan,” katanya.
Seketika, sebuah fakta pahit dan manis menyeruak: di antara puluhan siswa, kami hanya berdua. Dua perempuan, menantang ombak di jurusan yang kental aroma laut dan jaring.
“Jadi,” kataku, kini lebih mantap, “di Jurusan Perikanan, perempuan hanya dua orang. Aku dan kamu.”
Takdir terasa sedang merajut benang. Di saat yang paling sunyi, Dia—yang kemudian aku kenal sebagai Nurlinda—hadir sebagai jawaban. Aku mengulurkan tangan, dan ia menyambut. Dalam genggaman tangan itu, kami mendeklarasikan sebuah aliansi senyap. Kami adalah dua camar yang akan terbang bersama di atas lautan biru.
Sejak hari itu, kemana pun aku melangkah, ada bayangan Nurlinda di sisiku. Kami adalah kembar di tengah keramaian.
Titik balik berikutnya terjadi saat istirahat Latihan Dasar Kepemimpinan dan Kedisiplinan (LDKK). Kami menyusuri koridor, mencari wajah yang familiar, dan menemukan temanku dari Jurusan DPIB. Di sana, Alia sudah tidak sendiri. Di sampingnya, berdiri Vio, dengan tawa yang riang dan mata yang penuh semangat.
Empat pasang mata bertemu, dan dalam hitungan detik, kami menyadari bahwa energi kami saling mengisi. Alia dan Vio adalah jembatan yang kokoh; kami berdua adalah sungai yang akhirnya menemukan muara. Mulai saat itu, empat bayangan menari bersama di bawah terik matahari sekolah.
Namun, semesta belum selesai merangkai bintang-bintang kami.
Secara tak sengaja, Alia dan Vio bertemu dengan Anggun, seorang siswi dari Jurusan TKJ. Anggun, seperti diriku di awal, sedang berdiri sendirian, memanggul sepi di pundaknya. Ada kesamaan dalam sorot matanya yang mencari tempat berlabuh.
Tanpa perlu kata-kata panjang, kami menarik Anggun ke dalam lingkaran kehangatan kami. Sejak saat itu, kami tidak lagi empat, tetapi lima. Lima bintang yang bersinar di langit SMK Negeri 2 Kalianda.
Kami adalah Quintet, lima jiwa yang terikat oleh benang takdir paling kuat. Kami tertawa hingga perut sakit di kantin yang ramai, kami saling menyeka air mata di sudut perpustakaan yang sunyi, dan kami saling menyemangati saat buku-buku pelajaran terasa begitu berat.
Lima bintang di Jurusan Perikanan, DPIB, dan TKJ. Lima kisah yang berbeda, kini memiliki satu judul yang sama: Persahabatan. Dalam suka dan duka, dalam senang dan sedih, kami adalah satu. Sebuah babak yang ditulis dengan tinta kebersamaan, yang tak akan pernah pudar di halaman waktu.