“Luruh di Ujung Senja”
Karya : Rehan Agribisnis Perikanan Air Laut
Angin sore berhembus pelan, seolah mengelus wajah desa kecil di kaki bukit. Senja menumpahkan warna jingga keemasan di langit; warnanya begitu tenang hingga menenangkan hati siapa pun yang memandangnya. Di tepian sawah, seorang gadis bernama Laras berjalan perlahan, membiarkan kain jariknya berkibar lembut mengikuti arah angin.
Laras selalu menyukai senja. Baginya, senja adalah jeda—waktu di mana segala yang gaduh mereda, dan yang sunyi berbicara. Di antara cahaya yang perlahan meredup itulah, ia kerap mendengar suara hatinya sendiri lebih jelas daripada sebelumnya.
Sore itu, ia kembali duduk di batu besar dekat pematang yang sudah bertahun-tahun menjadi tempatnya berbagi cerita pada langit. Namun, kali ini ada seseorang yang datang menapaki jalan tanah, langkahnya hati-hati, seolah takut mengusik ketenangan yang sedang menyelimuti semesta.
“Laras?” panggil seorang pemuda, suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh desir angin.
Laras menoleh. “Arga. Sudah lama ya?”
Arga tersenyum, senyum yang menyimpan kenangan masa kecil yang mereka rajut bersama. “Lima tahun terasa seperti satu musim yang tak kunjung selesai.”
Mereka duduk berdampingan. Tidak ada kata-kata, hanya keheningan yang anehnya tidak memilukan—justru terasa seperti rumah yang lama ditinggalkan dan baru kembali ditemukan.
“Aku pergi waktu itu karena ingin mengejar mimpi,” ujar Arga akhirnya. “Tapi ternyata, mimpi tidak pernah sesempurna ketika tidak ada seseorang yang ingin kau ajak berbagi.”
Laras menunduk. “Aku menunggu. Tapi aku juga belajar… bahwa menunggu tidak selalu harus berharap seseorang kembali.”
Arga mengangguk. “Aku tahu. Dan aku tidak datang untuk merebut apa pun. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena pernah menjadi rumah bagi masa mudaku.”
Hening lagi. Senja mulai turun, menyisakan guratan merah di cakrawala. Di kejauhan, suara burung-burung yang kembali ke sarang mengisi udara dengan melodi lembut.
“Arga,” Laras berbisik, “kadang kita harus merelakan sesuatu bukan karena tidak berharga, tapi karena kita ingin memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk tumbuh.”
Arga menatapnya lama, lalu tersenyum. “Terima kasih. Kata-katamu selalu menjadi cahaya di waktu yang redup.”
Mereka berdiri bersamaan. Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah dan padi yang menguning, seolah mengerti bahwa dua hati yang pernah saling menggenggam kini sedang berusaha berdamai dengan takdir masing-masing.
Sebelum berpisah, Arga berkata, “Semoga kita tidak lupa bahwa pernah ada senja yang menyatukan, lalu meluruhkan kita dengan cara paling lembut.”
Laras mengangguk. “Semoga jalanmu selalu terang.”
Mereka melangkah pergi ke arah berlawanan, meninggalkan batu besar dan senja yang nyaris padam. Namun di hati masing-masing, ada sesuatu yang terasa ringan—seperti daun kering yang akhirnya terlepas, meluruh, lalu jatuh dengan indah.
Malam tiba. Bintang muncul satu per satu. Dan di bawah langit yang luas, Laras tersenyum kecil, menyadari bahwa tidak semua perpisahan harus menyakitkan; beberapa justru tercipta untuk membuat hati lebih matang, lebih lapang, dan lebih siap menerima cahaya baru.