“Nada yang Menyembuhkan Hati”
Karya : Refandra XII APL
Di sebuah desa yang tak pernah kehabisan cerita, hiduplah seorang lelaki bernama Darma—pria sederhana yang terkenal dengan satu kebiasaan unik: ia tak pernah absen nyawer biduan. Setiap ada panggung dangdut—entah hajatan, syukuran panen, atau ulang tahun anak tetangga—dapat dipastikan Darma sudah berdiri paling depan, senyum mengembang seperti fajar yang menetas di balik bukit.
Namun di balik celoteh warga yang sering menggoda, tak banyak yang tahu alasan Darma begitu setia pada panggung dan para biduan. Baginya, musik adalah jembatan. Nada-nadanya menghubungkan hatinya yang sunyi dengan dunia yang penuh warna. Sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, rumah Darma hanyalah sepetak kesunyian yang tak kunjung usai. Suara musik dan tawa biduan menjadi obat yang tak pernah diresepkan tabib mana pun.
Suatu malam, panggung dangdut kembali berdiri di lapangan desa. Lampu warna-warni menari di udara, dan suara sound system pecah seperti hujan bintang. Di atas panggung, tampil seorang biduan baru—namanya Raras. Suaranya lembut, tapi mengalun dengan kekuatan yang sanggup menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Darma terpaku. Bukan pada kecantikannya, bukan pada gemerlap gaunnya—melainkan pada cara Raras menyanyi, seolah setiap liriknya adalah doa yang dititipkan angin.
Ketika lagu ketiga dimulai, Darma maju pelan-pelan. Ia tak berjingkrak seperti biasanya; ia hanya mengulurkan selembar uang dengan tangan bergetar.
“Untuk penyemangat, Mbak,” ucapnya lirih.
Raras tersenyum. Bukan senyum profesional yang biasanya dipakai para biduan, tapi senyum yang tulus, yang membuat malam terasa lebih hangat.
“Terima kasih, Pak. Semoga senang malam ini.”
Darma mengangguk dan kembali ke tempatnya, namun hatinya tak kembali bersamanya. Ia tertinggal di dekat panggung, bercampur dengan gema suara Raras.
Sepanjang acara, Darma bukan lagi tukang nyawer yang riuh. Ia seperti penjaga sunyi yang memeluk malam dengan penuh hormat. Raras pun beberapa kali melirik ke arahnya—bukan karena uang sawerannya, tetapi karena aura lembut yang tak biasa dimiliki lelaki lain di barisan depan.
Usai acara, ketika para warga mulai pulang dan suara musik mereda, Raras menghampiri Darma yang masih duduk di bangku panjang dekat balai desa.
“Pak Darma, ya?” tanya Raras pelan. “Saya dengar Bapak selalu hadir di setiap panggung.”
Darma tersenyum malu. “Musik membuat saya merasa tidak sendirian.”
Raras duduk di sebelahnya, menjaga jarak namun menghadirkan kedekatan yang hangat.
“Kalau begitu, biar saya nyanyi bukan hanya untuk penonton. Tapi juga untuk orang-orang yang hatinya sedang belajar sembuh.”
Darma menatap wajah Raras, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasakan pintu kecil di dalam dirinya terbuka kembali—pintu yang dulu ia kira telah terkunci selamanya.
Angin malam berhembus, membawa sisa-sisa nada yang belum benar-benar padam.
Dan sejak malam itu, Darma bukan lagi sekadar si tukang nyawer biduan.
Ia menjadi penjaga bisu dari suara yang menuntunnya pulang ke dirinya sendiri.
Raras pun bukan sekadar biduan panggung.
Ia adalah suara lembut yang membuat hati yang patah berani tumbuh lagi.