Ada doa-doa yang kita ucapkan sambil menengadah.Ada pula doa yang hanya berani kita bisikkan dalam sujud, ketika dahi menyentuh sajadah dan air mata jatuh tanpa suara.
Namun, ada doa yang tidak sekadar meminta kepada langit.Ia harus diperjuangkan.
Ia harus dijemput dengan langkah-langkah panjang, dengan lelah yang disembunyikan, dengan air mata yang dikeringkan sendiri, dan dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah keliru memilihkan jalan pulang bagi hamba-Nya.
Fani percaya pada doa semacam itu.
Sejak kecil, ia hanya memiliki satu cita-cita sederhana: menjadi guru.
Baginya, guru bukan sekadar pekerjaan.
Guru adalah jalan panjang untuk menanam sesuatu yang mungkin baru tumbuh ketika dirinya telah lama tiada.
“Kalau ilmu yang kita ajarkan membuat satu anak menjadi lebih baik, insyaallah pahalanya akan terus mengalir.” Begitu keyakinan Fani.
Mungkin karena itulah, meskipun hidup berkali-kali memberinya alasan untuk berhenti, ia tetap memilih mengajar.Bahkan ketika hidup memaksanya menjadi seorang ibu sekaligus kepala keluarga.
Suaminya pergi terlalu cepat.
Saat itu Laila, anak perempuan pertama mereka, sedang menginjak masa remaja. Adila, putra keduanya, baru saja mengenakan seragam putih-merah dan belajar mengeja dunia melalui buku-buku sekolah dasar.
Kematian suaminya meninggalkan rumah dalam keadaan yang aneh. Rumah itu masih sama. Kursi masih di tempatnya. Piring-piring masih tersusun di rak. Pintu masih berbunyi ketika dibuka. Tetapi ada satu suara yang tidak pernah kembali.
Suara seseorang yang dahulu selalu dipanggilnya dengan kata suami.
Sejak hari itu, Fani belajar bahwa kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang pergi.
Kehilangan adalah ketika seseorang harus tetap berjalan, padahal sebagian dirinya ingin duduk dan menangis sepanjang usia. Ia tidak punya banyak pilihan. Di satu sisi ada dua anak yang harus dibesarkan. Di sisi lain ada toko sembako peninggalan suaminya yang harus dipertahankan. Maka Fani meneruskan usaha itu.
Pagi hingga siang ia mengajar sebagai guru honorer. Di sela-sela waktu, ia mengurus toko. Malam hari, ia menghitung pemasukan dan pengeluaran sambil memastikan tugas sekolah anak-anak selesai.
Hari-harinya seperti benang yang ditarik dari dua ujung. Kadang terlalu tegang. Kadang hampir putus. Tetapi Fani selalu menyambungnya kembali. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat ibunya menyerah.
“Boleh lelah, Nak. Tapi jangan menyerah.”
Itulah kalimat yang sering ia katakan kepada Laila dan Adila.
Sesungguhnya kalimat itu bukan hanya untuk kedua anaknya. Itu adalah nasihat yang setiap hari ia berikan kepada dirinya sendiri.
Tahun-tahun berlalu.
Toko kecil itu mulai tumbuh. Tidak besar, tetapi cukup untuk membuat dapur tetap mengepul.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah berubah. Fani tetap mengajar. Banyak orang bertanya.
“Kan Ibu sudah punya usaha. Kenapa masih mau jadi guru honorer?”
Fani hanya tersenyum.
“Karena menjadi guru adalah cita-cita saya.” Sesederhana itu. Ia tahu gaji guru honorer tidak selalu sebanding dengan lelah. Ia bahkan sering bercanda bahwa gajinya lebih pandai membuat tersenyum daripada membuat kaya.
Tetapi setiap kali melihat murid memahami pelajaran, menemukan keberanian berbicara, atau berhasil mencapai cita-cita, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa lunas. Bukan lunas secara materi. Melainkan lunas sebagai manusia. Baginya, mengajar adalah bentuk lain dari sedekah.
Sedekah ilmu. Dan ilmu, pikirnya, tidak mengenal tanggal kedaluwarsa.
Kemudian sebuah kabar datang.
Pemerintah membuka peluang pengangkatan besar-besaran bagi guru honorer menjadi ASN. Berita itu seperti cahaya kecil di ujung lorong yang selama puluhan tahun gelap. Fani tidak mau sekadar berharap. Ia memilih bersiap. “Sedia payung sebelum hujan,” katanya kepada dirinya sendiri.
Ia belajar dari YouTube. Membaca materi dari Telegram. Mengikuti bimbingan belajar daring.
Mengerjakan soal-soal latihan. Setiap ada waktu, ia belajar. Saat toko sepi, ia membuka materi.
Saat anak-anak tidur, ia mengerjakan soal. Ketika tubuhnya meminta istirahat, ia mencuri waktu untuk mengulang materi. Ia tahu persaingan akan berat.
Tetapi bukankah selama ini hidup juga tidak pernah memberinya jalan yang mudah?
Malam-malam panjang ia habiskan bersama buku dan layar ponsel. Kemudian, sebelum tidur, ia membentangkan sajadah. Di sanalah semua kecemasan berubah menjadi doa.
“Ya Allah…” Hanya itu yang sering keluar. Setelahnya, air mata mengambil alih bahasa. Ia tidak meminta menjadi orang kaya. Tidak meminta jabatan tinggi. Tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya meminta satu hal.
“Ya Allah, izinkan aku menjadi ASN sebagai guru.”
Tetapi tanpa Fani sadari, di dalam doanya ada dua permintaan lain yang selalu ia selipkan.
Ia ingin memperoleh nilai terbaik. Dan jika Allah mengizinkan, ia ingin tetap mengabdi di sekolah tempatnya selama ini mengajar.
Tiga doa. Tiga harapan. Tiga hal yang kelak akan mengubah cara Fani memahami takdir.
Hari pembukaan formasi tiba.
Jantung Fani berdebar ketika membuka daftar formasi. Ia membaca perlahan. Kemudian berhenti. Dahinya mengernyit. Formasi yang ia harapkan tidak tersedia di wilayahnya.Ada.
Tetapi di utara. Jauh dari kampung halamannya. Jauh dari toko yang dibangun bersama almarhum suaminya.Jauh dari rumah yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya.
Fani terdiam lama. Jika ia mendaftar dan diterima, apa yang akan terjadi dengan toko?
Siapa yang akan mengurusnya? Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka harus ikut pindah? Kalau pindah, mereka akan tinggal di mana? Mengontrak? Bagaimana sekolah mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan di kepalanya seperti hujan yang turun tanpa jeda.
Namun kemudian sebuah suara kecil muncul dalam hatinya. Kesempatan tidak datang dua kali.
Fani menarik napas panjang. “Bismillah.” Ia menyiapkan semua berkas. Mengunggah dokumen.
Memeriksa kembali. Lalu menekan tombol pendaftaran. Selesai. Ia telah memilih untuk mencoba.
Nila, sahabatnya, juga ingin mendaftar. Tetapi jarak membuat Nila ragu. “Kalau jauh bagaimana, Fan?” Fani pun sebenarnya tidak memiliki jawaban. Namun keduanya saling menguatkan.
“Kalau kamu daftar, aku ikut,” kata Nila.
“Benar?”
“Iya. Kamu daftar duluan.” Fani tersenyum.
Ia tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu kelak akan menjadi salah satu bagian paling aneh dari perjalanan hidupnya.
Sebab ketika Nila mencoba mendaftar… Tautan itu sudah terkunci. Tidak bisa dibuka. Tidak bisa dilanjutkan. Nila gagal mendaftar. Teman-teman seprofesi Fani pun mengalami hal yang sama.
Satu demi satu gagal. Hanya Fani yang berhasil. Ia menjadi satu-satunya pendaftar dari wilayah selatan. Yang lainnya berasal dari daerah utara, termasuk guru-guru yang memang telah lama mengabdi di sekolah tersebut.
Fani memandangi layar ponselnya. Entah harus bersyukur atau takut. Barangkali, pada saat itu, takdir sedang membuka pintu sambil menyembunyikan ruangan di baliknya.
Hari tes tiba. Fani berangkat ke utara bersama Laila dan Adila. Sepanjang perjalanan, pemandangan di luar jendela kendaraan bergerak seperti potongan-potongan masa lalu. Sawah.
Pohon. Jalan panjang. Rumah-rumah.
Semua seperti sedang bertanya:
Benarkah kau akan pergi?
Air mata Fani jatuh. Ia cepat-cepat menghapusnya. Tetapi air mata berikutnya datang lagi.
Ia teringat suaminya. Teringat toko. Teringat rumah. Teringat hari-hari ketika mereka membangun semuanya dari sedikit demi sedikit.
Apakah ini langkah yang benar? Tidak ada yang menjawab. Maka Fani memilih bertanya kepada Allah melalui diamnya.
Sesampainya di utara, ada satu tempat yang ingin ia datangi terlebih dahulu. Makam suaminya.
Di hadapan pusara itu, Fani duduk cukup lama. Ia tidak banyak bicara. Hanya menatap nisan dengan mata berkaca-kaca.
“Ayah…” Suara itu hampir tidak terdengar. “Aku mau tes.” Angin bergerak perlahan. Daun-daun bergesekan seperti seseorang sedang berbisik. “Aku tidak tahu apakah nanti aku harus pergi atau tetap tinggal.” Fani menunduk.
“Tapi kalau ini jalan terbaik, tolong doakan aku.” Ia tersenyum tipis.
Barangkali untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa sedang berbicara kepada seseorang yang dahulu selalu menjadi tempatnya bertanya. Kemudian ia bangkit. Tes menunggunya.
Ruang ujian terasa dingin. Layar komputer menyala. Soal demi soal muncul. Fani membaca.
Menjawab. Membaca lagi. Menjawab lagi. Dan sesuatu yang aneh terjadi. Soal-soal itu terasa begitu dekat. Hampir seperti apa yang telah dipelajarinya. Materi dari YouTube. Latihan dari Telegram. Soal-soal bimbingan daring. Semuanya seperti menemukan tempatnya.
Air mata Fani kembali mengalir. Bukan karena kesulitan. Justru karena ia tidak menyangka.
Di tengah ujian itu, sebuah pertanyaan lain tiba-tiba muncul. Jika aku berhasil, benarkah aku harus meninggalkan semuanya? Tangannya tetap bergerak. Tetapi hatinya seperti sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Hasil tes keluar. Fani mendapat nilai tertinggi. Tertinggi dari seluruh peserta. Orang-orang mengucapkan selamat. Tetapi Fani justru semakin gelisah. Nilai itu seharusnya membuatnya bahagia. Anehnya, nilai itu justru terasa seperti sebuah koper yang harus segera ia kemas.
Ia menghadap kepala sekolah tempatnya selama ini mengabdi.
“Pak…”
“Iya, Bu Fani?”
“Kalau nanti saya di-SK-kan di utara, bolehkah saya menolak?”
Kepala sekolah terdiam.
Kemudian menggeleng.
“Jangan, Bu.”
“Kenapa, Pak?”
“Nanti Ibu bisa di-backlist.”
Fani terdiam. Ada sesuatu yang berat jatuh ke dalam dadanya. Malam itu ia kembali berdoa.
Tiga permintaan itu kembali ia bisikkan.
“Ya Allah…”
“Kalau memang menjadi guru ASN adalah jalanku, izinkan aku.”
“Kalau memang harus mendapat nilai terbaik, berikan aku nilai terbaik.”
“Dan kalau Engkau berkenan…” Fani menarik napas.
“Jangan jauhkan aku dari sekolah ini.”
Hari pengumuman tiba. Fani tidak sanggup membuka laman pengumuman.
Tangannya gemetar. Ia menyerahkan rasa ingin tahunya kepada teman-teman. Mereka yang membuka. Mereka yang melihat.Mereka yang pertama kali mengetahui.
Beberapa detik kemudian…
“Fani!” Fani menoleh.
Wajah teman-temannya justru tampak cerah.
“Apa?”
“Kamu tidak lolos!”
Fani terdiam.
Tidak lolos?
Padahal nilainya tertinggi?
Ia melihat wajah teman-temannya. Tidak ada kesedihan. Yang ada justru sorak kegembiraan.
Seseorang tertawa.
“Alhamdulillah!”
Yang lain menyahut.
“Bu Fani tidak jadi pergi!” Fani pun tiba-tiba tertawa. Lalu menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang aneh:
Ia bahagia karena tidak diterima.
“Baru kali ini ada orang tidak lulus malah sebahagia ini,” ujar seorang teman.
Fani mengusap air matanya.
“Karena ternyata saya juga tidak ingin pergi.”
Saat itulah ia sadar. Kadang-kadang manusia meminta sesuatu kepada Allah dengan seluruh keyakinannya, tetapi Allah memberikan jawaban yang berbeda.
Bukan karena Allah tidak mendengar. Melainkan karena Allah mendengar sesuatu yang bahkan tidak sanggup kita ucapkan.
Kepala sekolahnya pun penasaran.
“Bu Fani, kok bisa?”
Fani tersenyum. “Boleh tahu doa Ibu apa?” Fani tertawa kecil.
“Saya selalu berdoa semoga lulus dengan nilai tertinggi.”
“Dan ternyata?” “Allah kabulkan.”
“Terus?”
“Saya juga berdoa semoga bisa diangkat menjadi ASN.”
Kepala sekolah mengangguk. “Sudah. Tinggal satu lagi?”
Fani tersenyum malu.
“Saya berdoa semoga kalau diangkat, saya di-SK-kan di sekolah induk tempat saya selama ini mengabdi.”
Kepala sekolah tertawa.
“Agak maksa ya, Bu, doanya.”
Fani ikut tertawa.
“Iya, Pak. Sedikit.”
Kepala sekolah kemudian berkata, “Kalau begitu, teruskan saja doanya. Siapa tahu Allah kabulkan.” Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi beberapa menit kemudian, televisi dan layar ponsel menayangkan pidato Menteri.
Ada penjelasan tentang peserta yang memperoleh nilai terbaik tetapi belum dinyatakan lolos karena formasi di sekolah tujuan telah terisi oleh guru yang memang menginduk di sana.
Mereka diminta tidak khawatir.
Ada jalan berikutnya. Guru honorer yang memiliki nilai terbaik akan diarahkan ke sekolah induknya. Jika sekolah induk belum membuka formasi, pemerintah akan mengupayakan pembukaan formasi. Dan mereka tidak perlu mengikuti tes kembali.
Fani terpaku. Ia menatap layar. Kemudian menatap teman-temannya. Tidak ada yang berkata-kata. Hanya ada satu kalimat yang berputar-putar dalam kepalanya.
Semoga ini bukan sekadar omongan.
Satu tahun berlalu. Fani tetap mengajar. Tetap membuka toko. Tetap menjadi ibu. Tetap menjadi perempuan yang setiap malam membentangkan sajadah dan menyerahkan segala yang tidak mampu ia kendalikan kepada Allah.
Sampai suatu hari… Surat itu datang. SK. Tangannya gemetar ketika membukanya. Nama Fani tercantum di sana. Sekolah induk. Sekolah tempat ia selama ini mengajar. Tempat ia menanam ilmu. Tempat ia mengenal ratusan wajah murid. Tempat ia bertahan selama bertahun-tahun.
Dua puluh tiga tahun. Dua puluh tiga tahun menjadi guru honorer. Dua puluh tiga tahun mengabdi dengan penghasilan yang kadang terasa seperti candaan hidup. Dua puluh tiga tahun menunggu sesuatu yang tidak pernah ia tahu kapan datangnya.
Dan akhirnya… Datang juga. Bukan dari arah yang ia sangka. Bukan melalui jalan yang ia bayangkan. Bahkan sempat datang melalui kegagalan.
Fani membaca SK itu sekali lagi. Air matanya jatuh. Laila memeluk ibunya. Adila tersenyum.
Dan untuk sesaat Fani teringat suaminya.
Ia membayangkan jika lelaki itu masih ada, mungkin ia akan menjadi orang pertama yang dipeluknya.
Fani menatap langit dari balik jendela.
“Ayah…” Suaranya bergetar.
“Akhirnya.” Hanya satu kata. Tetapi di dalamnya ada dua puluh tiga tahun perjuangan.
Malam itu Fani kembali bersujud. Sajadah yang sama. Langit yang sama. Tetapi hati yang berbeda. Ia mengingat semua doa yang pernah dilangitkan.
Doa pertama:
Ya Allah, izinkan aku menjadi guru. Terkabul.
Doa kedua:
Ya Allah, izinkan aku mendapatkan nilai terbaik. Terkabul.
Doa ketiga:
Ya Allah, jika aku menjadi ASN, izinkan aku tetap mengabdi di sekolah ini. Terkabul.
Fani menangis. Bukan karena kecewa. Bukan karena lelah. Melainkan karena baru sekarang ia mengerti sesuatu. Bahwa doa tidak selalu dikabulkan dengan cara yang kita bayangkan.
Kadang Allah membuat kita berjalan jauh hanya untuk menunjukkan bahwa rumah yang kita cari ternyata tidak pernah kita tinggalkan. Kadang Allah memberi kita kegagalan agar kita tidak salah memahami keberhasilan. Kadang Allah membuat kita menangis dalam perjalanan, agar kita tahu bagaimana rasanya tersenyum ketika sampai.
Dan kadang-kadang…
Allah sengaja membuat kita mendapatkan apa yang kita minta dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan.
Fani tersenyum di antara air mata. Ternyata tiga doanya tidak pernah saling bertentangan.
Ia hanya belum tahu bahwa ketiganya sedang menunggu waktu untuk pulang bersama.
Pagi berikutnya, Fani datang ke sekolah seperti biasa.
Namun pagi itu berbeda. Untuk pertama kalinya, ia berjalan menuju ruang guru bukan sebagai seseorang yang sedang menunggu. Melainkan sebagai seseorang yang telah sampai.
Dua puluh tiga tahun sebelumnya, ia datang membawa cita-cita.
Hari itu ia datang membawa jawaban. Ia memandang halaman sekolah. Ada murid-murid berlari. Ada guru-guru menyapa. Ada suara bel. Semuanya tampak biasa.
Tetapi bagi Fani, pagi itu seperti halaman pertama dari sebuah buku baru. Ia tersenyum.
Kemudian berbisik kepada dirinya sendiri:
“Allah tidak pernah terlambat.” Sebab bagi manusia, menunggu dua puluh tiga tahun mungkin terasa terlalu lama. Tetapi bagi Tuhan yang mengatur waktu, dua puluh tiga tahun hanyalah satu cara untuk menuliskan kalimat:
“Aku mendengar doamu. Aku hanya menunggu saat yang paling tepat untuk mengabulkannya.”
Dan hari itu Fani akhirnya memahami:
Takdir tidak selalu datang melalui pintu yang kita ketuk. Kadang ia datang melalui pintu yang justru sempat kita takutkan. Kadang ia datang dengan nama kegagalan. Kadang ia datang dengan air mata. Namun ketika waktunya tiba, kita akan mengerti… Bahwa sejak awal,
Allah tidak sedang menolak doa kita. Allah sedang menuntun kita menuju jawaban yang paling tepat.Dan Fani? Ia akhirnya mendapatkan tiga hadiah dari langit:
menjadi guru, mendapatkan nilai terbaik, dan menjadi ASN di sekolah tempat hatinya telah lama berakar.
Tiga doa. Satu takdir. Dan sebuah kado terindah setelah dua puluh tiga tahun penantian. Sebab ternyata, doa yang paling indah bukanlah doa yang segera dikabulkan. Melainkan doa yang tetap kita panjatkan, meski waktu berkali-kali mengajarkan kita untuk menyerah.