Keputusan untuk hijrah-untuk kembali-adalah proses yang menyakitkan, serupa mencabut duri yang telah tumbuh menyatu dengan daging. Bey memulainya dengan hal-hal kecil.
Pertama, ia mendatangi Masjid tua di ujung gang. Bukan untuk salat, melainkan hanya duduk di terasnya. la tidak mengerti bahasa kitab suci, tapi ia merasakan getaran damai yang merayapi kakinya dari dinginnya lantai marmer.
Kedua, ia mencari Caca, yang penulis surat. la tidak memberinya uang atau barang, ia hanya memberikan senyum yang canggung, senyum yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat.
“Terima kasih, Caca. Om Bey akan mencoba mencari birunya langit itu,” ucapnya, suaranya parau, seperti dawai gitar yang lama tak disentuh.
Transformasi Bey menjadi tontonan bisu bagi warga. Mulanya, mereka berbisik curiga. “Berandal itu hanya berpura-pura, “kata mereka. Namun, waktu adalah penegasan terbaik. Bey mulai bekerja serabutan, menjadi buruh angkut di pasar. Tato naganya tak luntur, tapi kini, ia memilih menutupinya dengan kemeja lusuh, bukan untuk menyembunyikan masa lalu, melainkan untuk melindungi masa depannya.
la belajar bahwa hijrah bukanlah tentang menjadi manusia suci dalam semalam, melainkan tentang memilih untuk melangkah, berulang kali, ke arah cahaya, meskipun kaki sering tersandung kerikil dosa yang dulu ia tabur.