Dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi pantai yang terletak di sepanjang pantai, hiduplah seorang nelayan sederhana bernama Firdaus. Dia dikenal di seluruh kota karena keterampilan memancingnya yang luar biasa dan kecintaannya yang mendalam terhadap laut.
Setiap pagi, jauh sebelum matahari terbit, Firdaus berangkat dengan perahu nelayan kayu kecilnya, hanya ditemani oleh rekan setianya, seekor burung camar lucu bernama Caca. Bersama-sama, mereka menjelajah ke hamparan laut biru yang luas, di mana keahlian Firdaus memungkinkannya menavigasi perairan berbahaya dengan mudah.
Dengan jaring ikan terpercaya di tangan, Firdaus dengan sabar melemparkan kailnya ke kedalaman, berharap mendapat tangkapan yang melimpah. Kadang-kadang, ia duduk diam selama berjam-jam, merasakan lembutnya goyangan ombak di bawahnya, sambil menunggu ikan menggigit.
Suatu hari, ketika dalam perjalanannya, dia menemukan sebuah teluk tersembunyi yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Airnya lebih biru dari apa pun yang pernah dia saksikan, berkilauan di bawah sinar matahari seperti sejuta berlian berkilau. Rasa ingin tahu Firdaus menguasai dirinya, dan dia tahu dia harus menelusuri dan menjelajahi daerah yang mempesona ini.
Dalam penelurusannya, Firdaus melihat sekelompok lumba-lumba berenang riang di sampingnya. Gerakan anggun dan bunyi klik ceria mereka memenuhi hatinya dengan kegembiraan. Dia mengikuti lumba-lumba saat mereka berenang di bawah air yang menakjubkan, yang dihiasi mutiara dan kerang. Itu seperti sesuatu yang keluar dari dongeng.
Suatu sore yang sangat suram, ketika perahu Firdaus bergoyang pelan di tengah awan gelap, tiba-tiba dia merasakan tarikan kuat pada tali pancingnya. Jantungnya berdetak kencang karena antisipasi. Saat dia menarik tali pancing, dia menemukan seekor ikan besar menggeliat dan tercebur ke dalam air. Itu adalah tangkapan terbesar yang pernah dilihatnya.
Dipenuhi kegembiraan, Firdaus berjuang untuk membawa ikan besar itu ke kapal. Dengan bantuan Caca, mereka berhasil menyeret makhluk luar biasa itu ke geladak. Mata Firdaus terbelalak kagum saat ia terkagum-kagum melihat besarnya ukuran dan keindahan ikan tersebut. Ini adalah penemuan yang langka dan berharga.
Dipenuhi rasa bangga, Firdaus membuat keputusan untuk melepaskan ikan itu kembali ke laut, memahami bahwa makhluk agung seperti itu pantas untuk berkeliaran dengan bebas daripada dikurung. Dia dengan lembut menurunkannya kembali ke dalam air, menyaksikannya berenang dengan anggun, menghilang ke kedalaman di bawah.
Sejak saat itu, keberuntungan Firdaus tidak pernah berhenti. Dalam setiap perjalanannya, ia berhasil mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah, dan tidak pernah lupa berterima kasih kepada laut atas kemurahan hatinya. Penduduk kota mengagumi sifat kebetulan ini, dan menghubungkannya dengan kemurnian hatinya dan rasa hormatnya terhadap alam.
Firdaus terus memancing selama bertahun-tahun, membagikan hasil tangkapannya kepada penduduk desa dan selalu memastikan sumber daya laut tetap terjaga untuk generasi mendatang. Ia menjadi simbol kebaikan, kemurahan hati, dan nilai hubungan harmonis dengan alam.
Seiring berlalunya waktu, kebijakan Firdaus menyebar luas, menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Nelayan dari pantai yang jauh mencari bimbingannya, ingin sekali belajar dari kebijaksanaannya. Maka, kisah nelayan di laut terus berlanjut, meninggalkan warisan abadi berupa rasa hormat, keharmonisan, dan rasa syukur yang mendalam terhadap lautan yang luas dan menakjubkan.
Cerpennya sangat menarik wawan
Tetaplah untuk bersyukur walau keadaan apapun
Kita harus merasa cukup yang kita miliki
saya sangat senang